googlesyndication.com


festival kalonganan sabtu (26/4/2014)
Kota Pekalongan-
Pasang surut kejayaan batik pekalongan turut mewarnai sejarah nusantara dalam pemenuhan sandang dan budaya berpakaian orang indone sia.Awal sejarah batik dan kemunculanya di Pekalongan dimulai dari abad 16 karena di jaman itu komoditas  berupa kain batik sudah di perdagangkan dan bersaing dengan kain dari india.Walaupun dalam babad nusantara ada yang menyebutkan bahwa batik sudah ada di abad 9 masehi namun dalam perkembanganya yang tercatat tahun 1680 batik sudah di pakai oleh pribumi dan warga thionghoa bahkan ham pir kota-kota di pulau jawa seperti Pekalongan,
tegal,lasem,jogja,solo dan lain-lain juga mempr oduksi batik namun dalam hal daya tahan dan saing karena pengaruh pasang surut ekonomi dunia pa da waktu itu batik pekalongan lebih bisa bertahan hingga sekarang,fase kejatuhan dan kebangkitan batik terutama di pekalongan ditandai dengan datangnya bangsa eropa ke nusantara yang turut memberi warna,motif dan corak terhadap batik lokal.
Menurut Achmad Illyas pemerhati batik yang menjadi nara sumber acara Festival Kalonganan di halaman gedung Musium Batik Kota Pekalongan mengatakan bahwa ada korelasi antara batik lokal dengan kedatangan bangsa eropa ke nusantara karena pecampuran budaya muncul batik jenis baru yang terkenal adalah batik Elisabet pasca orang kulit putih masuk nusantara.       
Pada abad 17 di mulai era industrialisasi batik karena di pengaruhi beberapa pencampuran budaya yaitu pribumi jawa,china,arab dan barat (belanda),batik naik kelas sebagai pakaian eksklusif untuk kalangan tertentu sehingga pada waktu itu di tingkat rakyat batik menjadi mahal dan rakyat kembali melirik kain india,bahkan sebuah riwayat di sebutkan ada data import kain india sebanyak 1 juta pcs masuk ke nusantara.
Pada tahun 1830 pasar batik lokal terutama pekalongan di guncang dengan munculnya batik tiruan dari eropa,dengan teknologi mutakhir jaman itu proses pembuatan batik bisa lebih cepat,sekali lagi batik Pekalongan bisa bertahan di karenakan inivasasi para produsen batik pekalongan apalagi dengan di temukanya batik cap kurun waktu tahun 1870 yang bisa mempersingkat pembuatan batik,bersama jogja dan solo,pekalongan menjadi produsen dan pemasok batik terbesar nusantara serta kembali menguasai pasar.
Setelah kurun waktu kejayaan batik pekalongan bertahan di tahun 1930 batik pekalongan dihantam krisis karena pengaruh ekonomi global yang di mulai dari inflasi amerika,namun batik Pekalongan masih sanggup bertahan daripengaruh krisis ekonomi dunia ketika penghasil batik lainya kolaps.
Masih menurut Illyas kejayaan batik Pekalongan sebenarnya dalam arti era keemasan para juragan batik di Pekalongan di mulai Tahun 1950 ketika itu industri batik tumbuh luar biasa ditandai munculnya beberapa koprasi batik besar di bilangan Pekajangan,Buaran,Setono dan Pencongan yang pada waktu itu di beri kebijakan khusus dari pemerintahan Orde lama yang mengijinkan koprasi batik di pekalongan mengimpor langsung kain mori ataupun kain bahan baku batik.Pekalongan dengan industri batiknya pada waktu itu menjadi salah satu pemasok kebutuhan sandang rakyat.
Ahmad illyas juga membeberkan fakta bahwa setelah sekian lama fase jatuh bangunya industri batik di pekalongan ada saat krusial yang menjadi tanda runtuhnya industri batik pekalongan ketika rezim orde baru mengizinkan pihak asing masukdi industri ini dan turut ambil bagian menjadi pemasok kebutuhan sandang nasional lewat industrialisasi besar-besaran apalagi di produksinya batik,garmen dan produk turunanya dengan metode printing,sablon dan lainya di tahun 1970 sampai 1980 an,satu persatu industri batik lenyap hingga saat kebijakan batik menjadi pakaian nasional lewat seragam dan industri kreatif,batik naik pamor hingga saat ini batik menjadi warisan dunia.

 
Top