Pekalongannews, Kota — Batik tak harus menunggu upacara untuk dikenakan, apalagi mengorbankan lingkungan demi selembar kain.
Di Kota Pekalongan, dua anak muda memilih jalan berbeda untuk menjaga warisan batik tetap hidup. Mila Fahria, 23, mengembangkan pewarna alami melalui merek WERNA. Sementara Falahi Muhammad, 30, merancang batik agar lebih dekat dengan selera generasi muda melalui METAFLORA.
Keduanya membawa pesan serupa: masa depan batik bukan sekadar soal mempertahankan motif, melainkan juga memperbarui cara produksi dan memperluas pemakainya.
“Indonesia kaya sekali akan pewarna alami,” ujar Mila, Jumat (23/10/2026).
Alumni Kriya Batik Universitas Pekalongan itu mendirikan WERNA, singkatan dari *We Are Natural*, berangkat dari kegelisahannya terhadap limbah industri batik.
Ia melihat pewarna alami sebagai salah satu jalan untuk mengembangkan batik yang lebih memperhatikan lingkungan.
Indigo menjadi bahan untuk menghasilkan warna biru. Sementara itu, jolawe, tegeran, dan mahoni digunakan untuk menghasilkan warna lainnya.
Namun, beralih ke pewarna alami bukan perkara sederhana. Proses pengolahannya membutuhkan waktu lebih panjang dan pengawasan berkelanjutan.
Ketahanan warna juga menjadi tantangan tersendiri. Mila tidak ingin batik ramah lingkungan hanya menarik dari sisi konsep, tetapi mengecewakan ketika digunakan.
“Saya sampai uji lab untuk memastikan bahwa warna saya ini tidak luntur lagi,” katanya.
Melalui pengembangan tersebut, WERNA telah menghasilkan sekitar enam hingga tujuh warna, termasuk merah muda, merah, cokelat, biru, dan hijau.
Mila juga berencana mengembangkan warna dari limbah kulit untuk memanfaatkan bahan yang masih berpotensi diolah.
Produksi rutin WERNA baru dimulai pada April 2026, setelah Mila menyelesaikan kuliah pada Oktober 2025.
Baginya, pewarna alami menawarkan peluang untuk menghubungkan kreativitas dengan keberlanjutan. Bahan pewarna dapat dibudidayakan dan diperbarui, meskipun proses serta dampak lingkungannya tetap perlu diperhatikan.
Batik Jangan Cuma Jadi Seragam Acara
Jika Mila berfokus pada bahan dan proses produksi, Falahi Muhammad melihat tantangan dari sisi lain: bagaimana membuat anak muda benar-benar ingin memakai batik.
Arsitek yang melanjutkan studi di Program Studi Batik Universitas Pekalongan itu mendirikan METAFLORA untuk mengembangkan pendekatan desain yang lebih dekat dengan generasi muda.
Menurut Falahi, batik tidak semestinya hanya hadir dalam acara resmi atau diperlakukan sebagai warisan budaya yang wajib dihormati tanpa benar-benar digunakan.
“Bukan karena kasihan, bukan karena dianggap sesuatu yang sakral, tapi memang dekat dengan mereka secara desain maupun secara hasil akhirnya,” terang Falahi.
Pernyataan itu menyoroti persoalan penting dalam regenerasi batik. Anak muda perlu memiliki alasan untuk memilih batik, bukan sekadar mengenakannya karena kewajiban atau tuntutan acara.
Desain yang relevan, hasil akhir yang menarik, dan komunikasi yang sesuai dengan pasar menjadi bagian dari upaya tersebut.
Falahi ingin batik menjadi pilihan busana sehari-hari. Dengan begitu, batik tidak hanya hidup di lemari untuk acara tertentu, tetapi juga hadir dalam aktivitas anak muda.
Ia menilai penerimaan pasar berkaitan erat dengan keberlanjutan profesi pembatik.
Ketika konsumen muda semakin tertarik membeli batik, peluang usaha dan kebutuhan tenaga kerja juga berpotensi berkembang.
Sebaliknya, pasar yang melemah dapat membuat generasi muda ragu menjadikan batik sebagai sumber penghidupan.
Karena itu, regenerasi tidak cukup dilakukan dengan mengajak anak muda mencintai budaya. Industri juga perlu menawarkan penghasilan layak, lingkungan kerja yang baik, dan prospek karier yang masuk akal.
“Semakin kita bisa merespons kebutuhan saat ini, kita bisa mengupayakan bagaimana cara melayakkan pembatiknya dengan layak,” katanya.
Falahi telah menekuni riset batik sejak 2020 dan memperkenalkan karyanya kepada publik dalam tiga tahun terakhir.
Ia memandang budaya batik Pekalongan sebagai kekayaan yang harus terus dikembangkan. Pelestarian, menurut semangat pendekatannya, perlu berjalan bersama perubahan zaman.
Dari Pewarna hingga Pengolahan Limbah
Upaya memperbarui batik juga terlihat dalam pameran kolaborasi Museum Batik Pekalongan dan Green Batik bertema Green Batik, Batik Membumi, Generasi Peduli.
Kegiatan di pelataran Museum Batik Pekalongan itu menghadirkan praktik produksi batik yang lebih memperhatikan lingkungan. Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, turut menghadiri kegiatan tersebut.
Wakil Wali Kota Pekalongan Bulqis Diab menyebut pameran ini berbeda dari kegiatan museum pada umumnya. Selain menampilkan kain batik, kegiatan tersebut memperlihatkan instalasi instalasi pengolahan air limbah atau IPAL mini.
Teknologi itu diperkenalkan sebagai upaya mengolah limbah cair batik agar airnya dapat dimanfaatkan kembali untuk keperluan tertentu tanpa menggunakan bahan kimia dalam proses yang dijelaskan penyelenggara.
“Kali ini kami merangkul pencinta lingkungan dan juga para pembatik yang jumlahnya ada 14 pembatik dan itu kita lombakan, di mana para pembatik ini membatik dengan memperhatikan lingkungan,” ujar Bulqis.
Menurutnya, instalasi IPAL mini tersebut direncanakan menjadi proyek percontohan. Pemerintah Kota Pekalongan berharap teknologi serupa dapat dikembangkan menjadi IPAL komunal bagi para pembatik.
“Harapannya para pembatik di Kota Pekalongan ini minimal ada sepertiga IPAL komunal, sehingga untuk mengurangi pencemaran air yang ada di Kota Pekalongan,” katanya.
Bulqis mengatakan pemerintah daerah akan melakukan kajian lanjutan agar penerapan teknologi tersebut tidak berhenti sebagai proyek percontohan.
Tujuannya ialah menekan pencemaran air tanpa menghentikan produktivitas pembatik. Keberlanjutan lingkungan dan keberlangsungan ekonomi pelaku usaha harus berjalan beriringan.
“Air sungai kita tetap bersih, tetapi para pembatik juga tetap berproduktif dan menghasilkan pendapatan yang lebih baik lagi secara ekonomi,” ujarnya.
Belanda Melihat Tradisi sebagai Modal Inovasi
Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, menilai Green Batik memperlihatkan bagaimana tradisi dapat menjadi dasar inovasi untuk masa depan.
Ia melihat Pekalongan sebagai kota yang mempertemukan dua hal penting bagi Belanda, yakni air dan budaya.
Menurut Gerritsen, kolaborasi antara industri batik Pekalongan dan perguruan tinggi membuka peluang untuk mengembangkan proses produksi yang lebih berkelanjutan.
“Ini adalah contoh yang sangat baik bagaimana Anda bisa menggunakan tradisi untuk menginovasi,” ujar Gerritsen, Jumat (23/10/2026).
Ia juga mengapresiasi karakter batik Pekalongan yang memadukan tradisi, dunia usaha, dan seni.
Warna serta motif yang beragam menunjukkan kemampuan pembatik setempat untuk beradaptasi dan mengembangkan kreasi baru.
Gerritsen mencontohkan perpaduan motif Belanda dengan unsur khas Indonesia, seperti Garuda dan burung bangau atau heron.
Ia menyebut burung bangau sebagai simbol lama dalam industri batik Pekalongan.
“Kombinasi dan adaptifitas ini membuat batik Pekalongan sangat kuat,” jelasnya.
Gerritsen turut mengapresiasi pemanfaatan bangunan Museum Batik Pekalongan yang berasal dari era Belanda pada 1935.
Menurutnya, pemberian fungsi baru pada bangunan bersejarah menunjukkan kemampuan masyarakat Indonesia mengolah warisan masa lalu menjadi bagian dari identitasnya sendiri.
“Indonesia mengambil hal-hal dari masa lalu dan mengubahnya menjadi sesuatu untuk masa depan, ini luar biasa,” tuturnya.
Ia berharap kerja sama antara budaya Indonesia dan teknologi Belanda dapat berlanjut demi masa depan kedua negara.
Pasar Hijau dan Masa Depan Pembatik
Ketua Dekranasda Kota Pekalongan Inggit Soraya menyebut minat pelaku usaha terhadap pewarna alami terus berkembang.
Menurutnya, sejumlah UMKM mulai tertarik mengembangkan batik ekologis dengan memanfaatkan bahan dari daun, bunga, hingga kayu.
“Sekarang untuk UMKM yang tertarik ke warna alam sudah cukup banyak. Seperti batik-batik sekarang, batik-batik ekologis,” kata Inggit.
Meski harga batik dengan pewarna alami cenderung lebih tinggi, produk tersebut berpotensi menawarkan nilai tambah bagi pelaku usaha.
Bagi pembatik yang menggunakan pewarna kimia, Inggit menekankan pentingnya pengolahan limbah melalui IPAL agar air buangan lebih bersih sebelum dilepas ke lingkungan.
Pameran Green Batik diharapkan menjadi ruang edukasi bagi masyarakat sekaligus memperluas praktik produksi yang lebih bertanggung jawab.
Namun, masa depan batik ramah lingkungan tidak cukup ditentukan oleh pameran atau teknologi pengolahan limbah semata.
Batik perlu memiliki pasar yang kuat, proses produksi yang semakin baik, serta pembatik yang memperoleh penghidupan layak.
Di titik itulah peran generasi muda menjadi penting. Mereka bukan hanya calon penerus tradisi, melainkan juga perancang perubahan melalui bahan, desain, teknologi, dan cara berkomunikasi dengan konsumen.
Mila berupaya menjawab persoalan bahan pewarna. Falahi mencoba mendekatkan desain batik dengan selera anak muda.
Sementara itu, kolaborasi Green Batik membuka ruang bagi pengembangan proses produksi yang lebih memperhatikan lingkungan.
Ketiganya menunjukkan bahwa menjaga batik tidak harus berarti mempertahankannya tanpa perubahan. Justru melalui inovasi, batik Pekalongan berpeluang tetap relevan bagi generasi berikutnya.



No comments:
Post a Comment