![]() |
| gambar ilustrasi dibuat dengan AI |
Fenomena inilah yang belakangan disebut sebagai pergeseran dari “makan tabungan” menjadi “makan utang”.
Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika pendapatan rumah tangga tidak lagi mampu mengejar kebutuhan hidup, sehingga pinjaman digunakan untuk membayar kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ini menjadi perhatian karena penggunaan pinjaman digital terus berkembang. Data per Februari 2026 menunjukkan akumulasi utang masyarakat melalui pinjaman online (pinjol) dan layanan paylater mencapai sekitar Rp156 triliun., Rabu 2/9/2026.
Angka tersebut menunjukkan betapa besar masyarakat menggunakan fasilitas pembiayaan konsumtif di tengah tekanan ekonomi.
Tekanan ekonomi rumah tangga tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendapatan, tetapi juga kemampuan pendapatan tersebut untuk mengejar kenaikan biaya hidup.
Harga sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan telur yang masih tinggi membuat pengeluaran rumah tangga semakin besar.
Di sisi lain, kenaikan pendapatan tidak selalu bergerak secepat kenaikan biaya kebutuhan.
Situasi tersebut membuat sebagian masyarakat harus mengurangi pengeluaran, menguras tabungan, hingga akhirnya mencari sumber dana tambahan.
Ketika tabungan sudah tidak mencukupi, pinjaman digital menjadi salah satu pilihan yang relatif mudah diakses.
Ekonom senior Indef, Tauhid Ahmad, menilai pertumbuhan outstanding pinjaman online dan paylater menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mengandalkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan.
"Kondisi tersebut memperlihatkan adanya pergeseran dari fenomena “makan tabungan” menuju “makan utang”, terutama pada kelompok masyarakat menengah dan menengah ke bawah,: ujarnya.
Kemudahan memperoleh pinjaman digital memang memberikan solusi ketika seseorang membutuhkan dana dalam waktu singkat.
Proses pengajuan yang relatif mudah membuat masyarakat dapat memperoleh pembiayaan tanpa harus melalui proses serumit pinjaman konvensional.
Namun, kemudahan tersebut memiliki konsekuensi. Bunga, biaya layanan, dan denda dapat menambah beban pembayaran. Ketika seseorang kembali mengambil pinjaman untuk membayar kebutuhan atau kewajiban sebelumnya, persoalan keuangan dapat berkembang menjadi lingkaran utang.
Inilah yang membuat fenomena “makan utang” menjadi lebih mengkhawatirkan dibanding sekadar menghabiskan tabungan.
Tabungan yang habis memang membuat seseorang kehilangan cadangan dana. Namun, utang yang terus bertambah juga menciptakan kewajiban pembayaran pada masa mendatang.
Ketika sebagian besar pendapatan digunakan untuk kebutuhan pokok dan membayar cicilan, ruang untuk melakukan konsumsi lainnya menjadi semakin terbatas.
Kondisi ini dapat menjadi persoalan bagi perekonomian karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen penting dalam aktivitas ekonomi Indonesia.
Tekanan tersebut berpotensi semakin terasa menjelang momentum hari besar, ketika kebutuhan konsumsi masyarakat biasanya meningkat.
Jika pendapatan tidak bertambah secara signifikan, sebagian rumah tangga mungkin memilih menambah cicilan atau menggunakan fasilitas paylater untuk menjaga konsumsi tetap berjalan.
Salah satu kelompok yang menjadi perhatian adalah masyarakat kelas menengah.
Kelompok ini tidak selalu mendapatkan bantuan sosial seperti masyarakat berpenghasilan sangat rendah, tetapi pada saat yang sama juga dapat mengalami tekanan ketika harga kebutuhan pokok meningkat dan pendapatan stagnan.
Posisi tersebut membuat sebagian keluarga kelas menengah harus mengandalkan kemampuan finansial sendiri untuk menghadapi kenaikan biaya hidup.
Ketika tabungan terkuras, pilihan untuk menggunakan pinjaman pun semakin terbuka.
Pemerintah dinilai perlu memperkuat intervensi untuk menjaga harga kebutuhan pokok sekaligus memperluas perlindungan sosial bagi masyarakat yang rentan terdampak tekanan ekonomi.
Pengendalian harga pangan menjadi penting karena kebutuhan tersebut merupakan pengeluaran yang sulit dihindari rumah tangga.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu meningkatkan pemahaman mengenai risiko penggunaan pinjol dan paylater.
Pinjaman digital seharusnya digunakan secara terukur, bukan sebagai sumber pendapatan tambahan untuk membiayai kebutuhan rutin.
Sebab, ketika utang digunakan untuk membayar kebutuhan sehari-hari secara terus-menerus, persoalannya bukan lagi sekadar memiliki cicilan.
Masyarakat bisa masuk ke dalam lingkaran utang yang semakin sulit diputus.
Pada akhirnya, fenomena “makan utang” menjadi sinyal bahwa persoalan daya beli perlu mendapat perhatian lebih serius.
"Jika pendapatan tidak mampu mengejar biaya hidup sementara utang konsumtif terus meningkat, tekanan terhadap rumah tangga dapat semakin besar dan pada akhirnya ikut memengaruhi kekuatan ekonomi nasional," pungkasnya.



No comments:
Post a Comment