-->

Dugaan Keracunan MBG di Batang, 276 Warga Mengalami Keluhan hingga Dirawat di Rumah Sakit

Pekalongan News
Thursday, September 24, 2026, September 24, 2026 WIB Last Updated 2026-09-23T17:04:01Z
Dugaan Keracunan MBG di Batang, 276 Warga Mengalami Keluhan hingga Dirawat di Rumah Sakit
Pekalonganews, Batang– Jumlah warga yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, terus bertambah. Hingga Rabu, 23 September 2026, tercatat sebanyak 276 orang mengalami keluhan kesehatan.

Data tersebut disampaikan Wakil Bupati Batang Suyono saat memberikan pembaruan penanganan kasus. Namun, angka tersebut masih dapat berubah karena proses pendataan dan verifikasi korban masih berlangsung.

“Perkembangan tetap kita tunggu. Yang penting kita prihatin bersama. Semoga kejadian ini kejadian yang terakhir,” kata Suyono.

Dari data sementara, korban tersebar di wilayah layanan SPPG Bawang. SPPG tersebut diketahui melayani sekitar 2.700 penerima manfaat yang berasal dari 11 satuan dan lembaga pendidikan di Kecamatan Bawang.

Sebelas lembaga tersebut yakni TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotaayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.

Meski demikian, pemerintah menegaskan angka 2.700 merupakan total penerima manfaat, bukan jumlah korban. Tidak seluruh siswa maupun warga dari lembaga tersebut dipastikan mengalami keluhan.

Suyono menyebut sebagian korban merupakan anak penerima manfaat. Selain itu, terdapat orang tua yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG yang dibawa pulang oleh anak mereka.

“Orang tua memakan dari sisa anak,” ujarnya.

Sejumlah korban juga telah mendapatkan penanganan medis. Sekitar 19 orang tercatat masuk ke RSUD Kalisari Batang, dengan keluhan antara lain mual dan pusing.

Pemerintah terus memantau kondisi fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya pasien. Jika rumah sakit mengalami keterbatasan kapasitas, pasien dapat diarahkan ke puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap.

Di sisi lain, pemerintah belum menyimpulkan penyebab gangguan kesehatan tersebut. Sampel makanan telah diambil untuk pemeriksaan laboratorium.

Menu MBG yang dikonsumsi sebelumnya antara lain nasi, telur bolognaise, mix sayur, tahu mendoan, dan anggur. Namun, pemerintah belum menetapkan salah satu menu sebagai penyebab dugaan keracunan.

Sebagai langkah penanganan, distribusi MBG dari SPPG yang bersangkutan dihentikan sementara sambil menunggu hasil pemeriksaan dan evaluasi pengelolaan.

Suyono juga menegaskan pemerintah akan meminta penjelasan pihak yang bertanggung jawab terhadap operasional SPPG, termasuk memastikan penerapan standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan.

Meski korban telah mencapai 276 orang, pemerintah belum menetapkan kasus tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB). Penetapan KLB membutuhkan mekanisme dan pembahasan tersendiri.

Untuk saat ini, pemerintah masih memprioritaskan penanganan korban, pendataan, verifikasi sebaran kasus, serta pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan dapat mengungkap penyebab gangguan kesehatan yang dialami warga.

Sampai hasil laboratorium keluar, pemerintah masih menggunakan istilah dugaan keracunan MBG.
Komentar

Tampilkan

No comments:

TERKINI