0 Comment
Minyak adalah salah satu komoditas paling penting di dunia, Perkembangan bisa mempengaruhi ekonomi sebuah negara bahkan sampai harga bahan pokok di negara tersebut.

Beberapa negara dunia yang memasok minyak, seperti Arab Saudi, Amerika Serikat, Kanada, Tiongkok, dan Rusia merupakan pusat dari distribusi ke berbagai penjuru dunia. Harga tentu dipengaruhi oleh stok dari mereka, di sisi lain permintaan minyak juga harus tetep banyak supaya punya harga yang stabil.

Harga dan produksi minyak dunia ditentuin sama Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi ini! Di tahun 2016, mereka membentuk OPEC+ yang beranggotakan produsen minyak lebih besar, Pertemuan demi pertemuan pun kerap dilakukan demi mengontrol jumlah barel serta cadangan minyak. harga komoditas minyak imengikuti dolar Amerika Serikat.

Kondisi hubungan antara negara yang satu dengan yang lainnya memiliki peran sendiri di pasar minyak.

Minyak sudah identik banget sama harga yang tidak stabil ditambah pandemi di tahun 2020 kemarin. Di bulan Mei 2020 sampai sekarang, naik dari $37,63 per barrel WTI sampai ke $100.

Harga minyak yang melonjak tinggi ini pasti memicu reli bisa turun drastis seperti tahu 2015 - 2016 atau malah naik di atas titik tertinggi tahun 2012. Teka teki ini akan terus berlanjut ditambah kondisi tak menentu sekarang ini.

Meskipun Permintaan minyak mentah yang melonjak tinggi dikarenakan negara di dunia sedang berlomba-lomba untuk memulihkan aktivitas ekonomi mereka, namun tren harga minyak naik masih kuat dan membuat OPEC+ akhirnya meningkatkan produksi mencapai 400.000 barel mulai Agustus 2021. Alasan kenaikan tersebut digadang-gadang punya 2 alasan, yaitu ketegangan Rusia-Ukraina dan perintah militer Rusia yang tak pasti dan membuat minyak naik di 24 Februari ke level $100.

Untuk sekarang ini, kalau tak ada perselisihan pada produksi minyak, maka harga Bent akan mudah mengalahkan titik tertinggi. Perkiraan dari JP Morgan pada kuartal berikutnya adalah WTI di sekitaran $107 dan Brent di $110 per barrel. JP Morgan beranggapan kalau peperangan dan konflik di Eropa Timur terus berlangsung, ada peluang minyak tembus level 100 untuk kedua kalinya.

Selain ketegangan Eropa Timur, kemungkinan akan hadir tekanan bearish dari nuklir Iran yang ingin melepaskan lebih banyak minyak ke pasaran. Pembalikan tren minyak juga bisa terjadi mengingat keputusan OPEC atau Amerika Serikat untuk mendistribusikan lebih banyak minyak pada kondisi eskalasi Eropa Timur.

Post a Comment Blogger

 
Top