0 Comment
RS Telogorejo Tawarkan Teknologi Reproduksi Bantu Pasutri Dapatkan Keturunan
Kota Pekalongan - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut 186 juta perempuan di negara berkembang yang pernah menikah di usia produktif mengalami gangguan kesuburan. Menurut WHO hal tersebut disebabkan oleh infertilitas primer dan infertilitas sekunder, di mana 40 persen masing-masing faktor disumbang oleh istri atau suami dan 10 persen gabungan keduanya serta 10 persen sisanya infertilitas idiopatik atau sulit ditemukan penyebabnya.

Dokter spesialis kandungan, RS Telogorejo, dr Fadjar Siswanto, dalam talk show kesehatan tentang infertilitas dan bayi tabung, di Hotel Santika, Kota Pekalongan, mengatakan, banyak pasangan usia produktif melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan keturunan, namun karena berbagai hal hingga beberapa tahun di usia pernikahan belum juga mengalami kehamilan.

"Kalau berbagai cara sudah ditempuh secara benar oleh pasangan suami istri, maka ada upaya terakhir yang bisa dilakukan yakni dengan menjadi peserta program bayi tabung," katanya, Sabtu (7/3/2020).

Secara umum, program bayi tabung di Indonesia hasilnya belumlah terlalu tinggi, namun sebagai upaya terakhir sudah sangat membantu pasangan yang mendambakan keturunan.

"Sekarang tingkat keberhasilanya rata-rata sudah 25-35 persen, bahkan bila kondisi pasienya bagus bisa sampai 40 persen. Itu sebenarnya yang ingin kita bantu" terangnya.

Menurut dr Fadjar Siswanto, di Indonesia memang belum merata untuk pelayanan program bayi tabung, termasuk alat dan laboratorium karena sejauh ini adanya masih di kota besar.

Untuk pasangan yang tertarik ikut program tersebut, lanjutnya, bisa mendaftarkan diri karena sekarang di klinik RS Telogorejo, Semarang, sudah ada layanan tersebut.

"Untuk audiens, ayo yang sudah terlalu lama belum berhasil juga. Ada solusi yang bisa kami layani," ajaknya.

Kendati demikian ada beberapa faktor yang memerlukan  pertimbangan sebelum menjadi peserta program bayi tabung, seperti usia pasangan, ekonomi dan luangnya waktu untuk menjalani program tersebut.

"Untuk usia ibu, sebaiknya tidak terlalu tua atau tidak lebih dari 36 tahun karena akan menentukan tingkat keberhasilan disamping ada faktor lainya," ujarnya.

Demikian juga untuk faktor ekonomi karena prosesnya tidaklah murah karena misal cairan untuk memelihara sperma, sel telur dan embrio semuanya cukup mahal.

"Untuk biaya sebenarnya masih ada relatifnya karena berkaitan dengan beberapa faktor seperti kondisi peserta atau pasien apakah kondisinya bagus, sebab semakin ditemukan banyak kesulitan atau semakin tua akan semakin mahal," bebernya.

Sementara itu, Humas dan Pengembangan Bisnis, RS Telogorejo, Semarang, Ita Zonia, mengungkapkan, ada beberapa layanan unggulan seperti, syaraf, jantung serta bayi tabung dan kegiatan talkshow hari ini merupakan bagian dari kampanye mengenalkan bayi tabung sebagai salah satu upaya pasangan suami istri mendapatkan keturunan.

"Peserta talkshow yang semuanya ada 47 pasangan kebetulan belum diberi kesempatan memiliki keturunan akan dikenalkan dengan program bayi tabung dan tidak harus ke kota besar seperti Jakarta dan Surabaya," papar Ita Zonia.

Ita Zonia, menjelaskan, untuk bisa menjadi peserta program bayi tabung, ada paket yang bisa diikuti, yakni dengan biaya Rp 49.7 juta, sudah lengkap dengan stimulasi, obat-obatan dan transfer embrio.

"Prosesnya bisa dua pekan dengan tingkat keberhasilan hingga 40 persen bergantung dengan kondisi peserta atau pasien," jelasnya.

Post a Comment Blogger

 
Top