0 Comment
Pek Cun, Dari Mendirikan Telur Hingga Larung Kapal Sesaji Mampu Tarik Wisatawan Asing
salah satu ritual Pek Cun 
Kota Pekalongan
Rangkaian Festival Pek Cun yang dimulai sejak tanggal 18 juni lalu mencapai puncaknya pada hari Sabtu (20/6/15) kemarin. Dalam ritual Pek Cun yang di pusatkan di lokasi wisata Pasir Kencana Kota Pekalongan cukup menyedot animo masyarakat untuk menyaksikan prosesi sembayangan sedekah laut, apalagi jelang tengah hari yang banyak ditunggu karena konon tepat jam 12.00 siang tengah hari menurut kepercayaan, kita dapat mendirikan sebuah telur secara tegak lurus

Tak hanya masyarakat kota Pekalongan saja yang antusias menyaksikan acara tersebut, bahkan Festival Pek Cun Pekalongan Mampu Tarik Wisatawan Asing salah satunya wanita cantik asal Rumania yang mengaku sudah tiga tahun tinggal di Jogjakarta, dirinya sengaja menyempatkan diri mampir ke kota Pekalongan untuk melihat dari dekat ritual Pek Cun tersebut.
Flavia turis asal Rumania sukses mendirikan telur kurang dari 30 detik dalam festval Pek Cun

" Saya sangat senang memperhatikan masalah kebudayaan untuk itu saya datang dari Rumania untuk belajar budaya ke Indonesia dan saya sudah tinggal di Jogjakarta selama tiga tahun," ujar wanita pirang yang cukup mahir berbahasa Indonesia ramah.

Tidak saja cukup menguasai pengetahuan budaya, Flavia begitu panggilanya ternyata dengan sukses mampu mendirikan sebuah telur kurang dari 30 detik menyisihkan tiga lawanya.

" Saya senang sekali jadi juara pertama membuat telur bisa berdiri dengan waktu di bawah 30 detik dan saya juga sangat senang dapat hadiah," ucapnya dengan logat bahasa indonesia dengan terpatah-patah.

Sementara itu Ketua Panitia Festival Pek Cun, David Santosa menyampaikan, festival Pek Cun yang di laksanakan di lokasi wisata Pasir Kencana tersebut adalah puncak acara dari rangkaian festival yang di mulai tanggal 18 juni.

" Selama dua hari kita adakan pasar kuliner dari tanggal 18 di Jalan Blim bing, kemudian malam harinya jam 8 setelah sholat tarawih kita juga adakan Wayang Potehi dengan dalang khusus yang dihadirkan dari Surabaya," terangnya.

David menambahkan, seni tradisioanal wayang potehi telah puluhan tahun hilang dari Kota Pekalongan, sehingga pihaknya berinisiatif menampilkan kesenian yang sempat populer di Kota Pekalongan pada masa lampau.

" Wayang Potehi merupakan seni tradisional yang telah hilang di Kota Pekalongan dan merupakan salah satu kekayaan budaya bagi bangsa ini maka kita hadirkan untuk mengenang kembali," tambahnya.

Di tempat yang sama, Wakil Walikota Pekalongan H Alf Arslan Djuneid mengatakan, Pek Cun selain sebagai sebuah festival seni dan budaya juga mampu sebagai sarana masyarakat Kota Pekalongan untuk menjalin tali silaturahmi antar etnis yang berbeda.

" Masyarakat Muslim kota Pekalongan yang sedang menjalankan ibadah puasa masih menyempatkan diri menyaksikan festival Pek Cun sebagai hiburan sembari menanti datangnya waktu berbuka puasa," katanya.

Wawalkot juga menuturkan, bersama Dinas Pariwisata, Pemkot sangat mendu kung kegiatan kesenian kebudayaan sebagai agenda pariwisata yang akan dilestarikan.

Bahkan, menurut pria yang akrab disapa Alex tersebut, Pemerintah Kota Pekalongan bersama Dinas Pariwisata  berencana akan memusatkan festival Pek Cun di kota Pekalongan secara akbar.

" Kita akan tindak lanjuti nanti tahun 2016, Pemkot akan menyiapkan kepanitiaan untuk mensukseskan festival Pek Cun yang dipusatkan di Kota Pekalongan dengan harapan menjadi daya tarik wisata karena nanti ada pasar malam, wisata kuliner dan lainnya, dan tentunya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Pekalongan dari tiga etnis, jawa, Cina dan arab," tuntasnya.

Post a Comment Blogger

 
Top