Pekalongannews - Fenomena komunikasi menggunakan interkom pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya pada era 1980-an.
Di tengah keterbatasan teknologi saat itu, interkom hadir sebagai solusi komunikasi murah dan merakyat. Berbeda dengan radio amatir seperti CB atau handy talkie yang membutuhkan biaya besar, interkom cukup menggunakan kabel sederhana yang menghubungkan rumah ke rumah.
Di berbagai kampung, kabel-kabel interkom membentang dari satu rumah ke rumah lain, menciptakan jaringan komunikasi lokal yang unik. Meski jangkauannya terbatas, biasanya hanya mencakup beberapa RT atau kampung, alat ini mampu mempererat interaksi sosial antarwarga. Informasi penting seperti kabar orang sakit, pencurian, hingga kabar kelahiran dapat dengan cepat tersebar melalui interkom.
Namun, penggunaan interkom bukan tanpa kendala. Kualitas suara yang dihasilkan sering kali kurang jernih, bahkan cenderung berisik dan terputus-putus. Selain itu, jaringan kabel yang terbuka juga rawan rusak, baik karena faktor cuaca maupun ulah tangan jahil. Meski demikian, keterbatasan tersebut justru menjadi bagian dari kenangan yang sulit dilupakan.
Menariknya, interkom tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi sarana hiburan. Warga sering memanfaatkannya untuk berbincang santai hingga larut malam. Setiap pengguna biasanya memiliki nama samaran atau “nama udara” yang menambah keseruan interaksi. Bahkan, istilah “mojok” muncul dari kebiasaan berpindah ke jalur komunikasi yang lebih sepi untuk berbicara lebih privat.
Fenomena ini juga melahirkan dinamika sosial tersendiri. Ada pula sosok yang dikenal sebagai “tukang krodit”, yaitu pengguna yang sengaja membuat suasana menjadi ramai dan gaduh. Meskipun terkadang mengganggu, kehadiran mereka justru menambah warna dalam komunikasi interkom.
Popularitas interkom pada masa itu bahkan merambah dunia hiburan. Sejumlah musisi mengangkat tema komunikasi udara dalam lagu-lagu mereka. Lagu seperti “Bercinta di Udara” hingga “Mojok Yuk” menjadi bukti bagaimana tren ini begitu lekat dengan kehidupan masyarakat. Lirik-liriknya pun menggambarkan istilah khas dunia komunikasi saat itu, seperti “monitor” dan “QSO”.
Memasuki era 1990-an, popularitas interkom mulai meredup seiring berkembangnya teknologi komunikasi yang lebih modern. Telepon rumah hingga kemudian ponsel perlahan menggantikan peran interkom.
Di berbagai kampung, kabel-kabel interkom membentang dari satu rumah ke rumah lain, menciptakan jaringan komunikasi lokal yang unik. Meski jangkauannya terbatas, biasanya hanya mencakup beberapa RT atau kampung, alat ini mampu mempererat interaksi sosial antarwarga. Informasi penting seperti kabar orang sakit, pencurian, hingga kabar kelahiran dapat dengan cepat tersebar melalui interkom.
Namun, penggunaan interkom bukan tanpa kendala. Kualitas suara yang dihasilkan sering kali kurang jernih, bahkan cenderung berisik dan terputus-putus. Selain itu, jaringan kabel yang terbuka juga rawan rusak, baik karena faktor cuaca maupun ulah tangan jahil. Meski demikian, keterbatasan tersebut justru menjadi bagian dari kenangan yang sulit dilupakan.
Menariknya, interkom tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi sarana hiburan. Warga sering memanfaatkannya untuk berbincang santai hingga larut malam. Setiap pengguna biasanya memiliki nama samaran atau “nama udara” yang menambah keseruan interaksi. Bahkan, istilah “mojok” muncul dari kebiasaan berpindah ke jalur komunikasi yang lebih sepi untuk berbicara lebih privat.
Fenomena ini juga melahirkan dinamika sosial tersendiri. Ada pula sosok yang dikenal sebagai “tukang krodit”, yaitu pengguna yang sengaja membuat suasana menjadi ramai dan gaduh. Meskipun terkadang mengganggu, kehadiran mereka justru menambah warna dalam komunikasi interkom.
Popularitas interkom pada masa itu bahkan merambah dunia hiburan. Sejumlah musisi mengangkat tema komunikasi udara dalam lagu-lagu mereka. Lagu seperti “Bercinta di Udara” hingga “Mojok Yuk” menjadi bukti bagaimana tren ini begitu lekat dengan kehidupan masyarakat. Lirik-liriknya pun menggambarkan istilah khas dunia komunikasi saat itu, seperti “monitor” dan “QSO”.
Memasuki era 1990-an, popularitas interkom mulai meredup seiring berkembangnya teknologi komunikasi yang lebih modern. Telepon rumah hingga kemudian ponsel perlahan menggantikan peran interkom.
Meski demikian, bagi generasi yang pernah merasakannya, interkom tetap menjadi simbol kebersamaan dan kreativitas komunikasi di masa lalu.
Kini, interkom mungkin hanya tinggal kenangan. Namun, jejaknya tetap hidup dalam cerita dan nostalgia, mengingatkan kita pada masa ketika komunikasi sederhana justru mampu menghadirkan kedekatan yang luar biasa di tengah masyarakat.
Kini, interkom mungkin hanya tinggal kenangan. Namun, jejaknya tetap hidup dalam cerita dan nostalgia, mengingatkan kita pada masa ketika komunikasi sederhana justru mampu menghadirkan kedekatan yang luar biasa di tengah masyarakat.



No comments:
Post a Comment