0 Comment
Akhmad Khadik (26) satu di antara pembicara yang dihadirkan pihak STIE Muhammadiyah Pekalongan dalam kesempatan wisuda ke-XIV di Hotel Dafam, Kota Pekalongan, Rabu (19/6/19).
Pekalongan
Pertumbuhan Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia mencapai 6 persen pertahun serta tingkat partisipasi pendidikan tingginya pun tergolong tinggi mencapai 23 persen dan angka ini di tahun 2013 mengalahkan India yang mampu menempatkan 17 PTnya masuk kelompok 800 terbaik di dunia, berbanding terbalik dengan 4500 PT di Indonesia yang kesulitan masuk kelompok tersebut. Rektor Univeraitas Muhammadiyah Bandung, Prof Dr Suyatno, memaparkan hal tersebut saat orasi ilmiah di hadapan wisudawan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Pekalongan, Rabu (19/6/19), di Hotel Dafam, Kota Pekalongan.

Menurut Suyatno, hal tersebut sangat berpengaruh terhadap persaingan Sumber Daya Manusia (SDM) secara global. Ia menambahkan di antara negara-negara di Asia Tenggara hanya Singapura yang siap menghadapi era 4.0.

Mengapa Singapura bisa lebih siap dibanding Indonesia, lanjutnya, karena sistem dan kemampuan daya dukung pendidikan mereka lebih baik dan memang dipersiapkan untuk memasuki revolusi 4.0.

"Padahal Global Competitiveness Index (GCI) merilis sekaligus menempatkan Indonesia ada di peringkat 36 dari 117 negara di dunia dengan mengalahkan Jepang dan India," ungkapnya.

Lulusan PT di Indonesia, kata dia, lebih didominasi oleh swasta atau mencapai 70 persen dan kesempatan tersebut bisa dimanfaatkan oleh lulusan STIE untuk merebut peluang menjadi sarjana yang memiliki skil dan kompetensi yang tinggi apalagi sekarang mewisuda 114 orang di mana 63 di antaranya berprestasi cume laude.

Di kesempatan yang sama, STIE Muhammadiyah juga menghadirkan sekaligus memberikan kesempatan alumni yang dianggap sukses memanfaatkan peluang di dunia usaha untuk berbagi.

Satu di antaranya Akhmad Khadik (26) pemilik jaringan laundry berbasis IT yang sukses mengembangkan usahanya sekaligus perintis menjadi bapak asuh dengan membiayai kuliah karyawanya.

"Saya tak ingin karyawan hanya sekedar bekerja untuk mendapatkan uang namun juga memberikan kesempatan meningkatkan kualitas SDM dengan kuliah tanpa mengeluarkan biaya," ujarnya.

Menurut dia, kunci sukses adalah pendidikan, baik pendidikan formal maupun pendidikan agama. Untuk itu sejalan dengan pengalamanya terdahulu, ia tak ingin waktu karyawan hanya dihabiskan untuk kerja namun berusaha menyelesaikan pendidikan terutama di bangku kuliah.

"Pengalaman sulitnya membiayai kuliah sendiri membuat saya termotivasi untuk bisa membantu mewujudkan mimpi para karyawan saya untuk bisa kuliah dengan gratis," terangnya.

Post a Comment Blogger

 
Top