Showing posts with label Profile. Show all posts
Showing posts with label Profile. Show all posts

Ketua PC IPPNU Batang Cantik Bikin Baper

November 15, 2016 Add Comment
Ketua PC IPPNU Batang Cantik Bikin Baper
Desi Atinasikhah Ketua PC IPPNU Batang 
Kabupaten Batang
Tumbuh dan besar di lingkungan religius tak membuat sorang Desi Atinasikhah (24 th) sepi dari aktifitas. Siapa sangka gadis manis pengagum Abdurachman Wahid atau yang dikenal dengan sebutan Gusdur ini kenyang pengalaman berorganisasi.

Sejak duduk di bangku SMP, Desi memang sudah aktif di IPPNU hingga jabatan sekretaris IPPNU tingkat Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang dipercayakan kepadanya saat duduk di bangku SMK Farmasi Al Sya'iriyah tahun 2010-2011.

Darah NU memang mengalir deras dalam tubuhnya. Gadis Kelahiran 4 Desember 1992 ini begitu mencintai organisasi yang mempengaruhi kehidupanya sejak remaja.
"Saya tak ingin jadi NU secara kultural saja, akan tetapi saya juga ingin jadi NU secara struktural. Saya ingin memajukan NU lewat organisasi ini," kata gadis lulusan STAIN Pekalongan ini penuh semangat.
Loyalitas dan pengabdian Desi di organisasi IPPNU tak perlu diragukan. Jabatan sebagai Ketua PAC IPPNU digenggamnya tahun 2012-2014. Karir berorganisasi Desi terus melesat, tahun 2014-2016 jabatan sekretaris kembali digenggamnya. Namun kali ini tantanganya jauh lebih berat, Dirinya dipercaya menjadi sekretaris IPPNU tingkat cabang Kabupaten Batang.

Kenyang pengalaman merintis karir berorganisasi dari bawah, Desi tahu persis kondisi dan tantangan IPPNU sebagai sayap organisasi Nahdatul Ulama. Dirinya punya keinginan untuk lebih menghidupkan organisasi ditingkat ranting.
"Saya simpulkan kalau IPPNU di tingkat Desa dan Kecamatan belum sepenuhnya hidup. Saya ingin semuanya aktif secara struktural," harapnnya.
Gayung bersambut, mentas sebagai sekertaris cabang. Terhitung sejak 2016 hingga nanti tahun 2018, tumpuk pimpinan Ketua Cabang IPPNU Batang sudah dipercayakan kepadanya.

Desi tetaplah Desi yang dikenal orang selama ini sebagai gadis sederhana, jauh dari kesan hura-hura. Mengisi hidup remajanya dengan kegiatan positif.
"Kami di IPPNU juga bisa sama dengan anak muda lainnya. Maju tanpa ketinggalan perkembangan teknologi namun tanpa melupakan ajaran agama Islam," ucapnya.
Desi mengatakan, di IPPNU kami jauh lebih mementingkan moral etika beragama daripada mengagungkan life style yang jauh dari kesantunan hidup sosial.

Kisah Linmas Cantik Batang Yang Sering Digoda Saat Tertibkan Pedagang K5

October 25, 2016 2 Comments
Novita Ariani diambil gambarnya saat ikut bertugas mengamankan jalanya Rapat Pleno Terbuka KPU di Gedung Korpri Kabupaten Batang, Selasa (25/10/16)
Kabupaten Batang
Namanya Novita Ariani (20 th), gadis cantik ini berprofesi sebagai Linmas atau Hansip yang diperbantukan di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Batang. 

Sebagai Linmas, Novita juga ikut terjun ke lapangan menertibkan dan menegakan aturan Perda yang menjadi tugas pokoknya.

Bahkan dari mulutnya yang mungil, gadis berpostur langsing ini mengatakan pernah juga ikut menertibkan pedagang kaki lima yang melanggar Perda.

Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Pekalongan tahun 2015 ini mengaku, dalam bertugas sering mendapat godaan dari lawan jenis. Namun semua masih dianggapnya sebagai candaan.
"Sudah menjadi konsekuensi tugas sebagai petugas penegak Perda mas," ujar Novita saat ngobrol disela acara pengamanan Rapat Pleno Terbuka KPU Kabupaten Batang, Selasa (25/10/16).
Sejauh ini menurut gadis yang memilih mengenakan seragam dinas yang dipadu dengan hijab mengaku belum ada yang serius menganggu atau mengahalangi pekerjaanya.

Novita semula bertugas di Pemda Batang kemudian diperbantukan di Satpol PP sebagai Linmas. Perpindahan tugas tersebut tak menghalangi gadis berkulit putih bersih ini untuk tetap menjalani profesinya dengan senang hati.

Saat ditanya apakah sang pacar tidak keberatan dengan profesinya yang sekarang, Mengingat pekerjaan sebagai Linmas identik dengan pekerjaan seorang laki-laki.

Novita hanya tersenyum simpul. Gadis kelahiran 25 November 1994 ini mengaku belum mempunyai pasangan hidup atau pacar.
"Saya masih jomblo mas. Saya belum punya pacar, jadi tidak ada yang melarang ha...ha...ha," ucapnya sambil tertawa renyah.
Nah lho, mungkin diantara kalian ada yang berminat untuk ditertibkan Linmas cantik ini. Minimal ditertibkan hatinya biar tidak baper kalau berhadapan dengannya.

Kisah Sabine Bolk, Cewek Belanda Yang Benci Batik Printing

October 09, 2016 Add Comment
Pekalongan news
Sabine Bolk dengan latar seni batik instalasi karyanya yang dibuat di Musium Batik Pekalongan
Kota Pekalongan
Sabine Bolk (26 th) sudah 7 tahun mempelajari batik. Beberapa daerah yang dikenal sebagai pembuat batik seperti Lasem, Solo, Jogjakarta dan Pekalongan sudah ia jelajahi. Cewek asal Belanda yang aktif ngeblok ini mengaku sangat mencintai batik. Baginya batik itu warisan yang harus dilestarikan keberadaanya. Tak ayal, ia paham betul soal jenis, corak ragam, asal dan bahan pembuat batik.
"Saya sangat membenci batik printing, karena itu merusak dan batik printing bukan sebuah seni," ucapnya blak-blakan saat berbincang dengan penulis beberapa waktu lalu ketika ia tengah menyiapkan sebuah seni instalasi yang diambil dari filosofi batik.
Sabine Bolk mengisahkan, dirinya dan keluarganya yang tinggal di Belanda sangat mencintai Indonesia terutama batik. Makanya ia diijinkan selama 7 tahun menghabiskan waktunya untuk mengeksplorasi Indonesia dengan mengambil spesialisasi di bidang batik.

Saking pahamnya soal batik, pada suatu saat, ketika sedang berada dalam suatu tempat yang begitu banyak tersedia batik, ia dengan mudah mengenali kalau batik tersebut hasil karya si A asal Lasem dan benar.

Jadi jangan kaget kalau misalnya dia hadir dalam kegiatan yang terkait dengan batik semisal pagelaran seni atau fashion show yang bertema batik, bisa dipastikan matanya yang tajam langsung dapat mengenali keberadaan batik printing di acara tersebut. Dan Sabine pun tak merasa sungkan untuk menyebut atau menunjuk kalau batik yang mungkin anda kenakan terbuat dari printing.
"Batik Printing tidak bagus, itu produk industri bukan karya tangan asli orang Indonesia seperti batik tulis dan batik cap," ujar Sabine Bolk berprinsip.
Menurut Sabine, seni dan budaya orang Indonesia itu luar biasa, berkali-kali Sabine menyebut orang Indonesia itu sangat beruntung di beri anugrah Tuhan dengan luar biasa.
"Kalian sangat beruntung memiliki semuanya. Jangan sampai orang lain yang peduli, tapi kamulah yang harus peduli. Itu seni dan budaya kamu, jadi semua milik kamu," kata Sabine menghujam gendang telingan penulis.
Sampai beberapa saat, penulis terdiam seperti kehabisan bahan obrolan.
Untuk mengisi kebekuan penulis meminta ijin menawarkan diri untuk menuliskan secuil dari kisahnya yang menarik dalam sebuah postingan berita dan membuatkan sebuah vidio berita tv.

Seperti sebuah kejutan baginya, Sabine Bolk pun antusias. Bahkan menyiapkan sebuah janji, menyelesaikan partisipasinya di Pekan Batik Nusantara dengan membuat seni instalasi batik dari bahan organik seperti beras, biji-bijian dan serpihan kulit kayu sebagai medianya.

Kim Pelantun Lagu This War Is Not For Us Memukau Ratusan Anak di GOR Saburai Lampung

August 12, 2016 Add Comment
Kim Pelantun Lagu This War Is Not For Us Memukau Ratusan Anak di GOR Saburai Lampung
Kim membius ribuan warga Lampung tengah pada peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Provinsi Lampung di GOR Saburai Bandar Lampung
Bandar Lampung
Pelantun lagu This War Is Not For Us (One Word For Children) Kim Commanders yang bernama Lukman Hakim atau biasa dipanggil dengan sebutan Kim membius ribuan warga Lampung tengah pada peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Provinsi Lampung di GOR Saburai Bandar Lampung, Kamis, 11/8/2016. Musisi dari Lampung ini sukses membius ratusan anak-anak dari berbagai kabupaten/kota di Lampung dalam peringatan hari anak nasional di GOR Saburai, Kamis (11/8).

Riuh suara bocah seketika hening ketika Kim mulai mengumandangkan lagu barunya, This War Is not for Us. Tampilan slide yang mengambarkan kepedihan hati anak-anak korban konflik di belakang panggung makin mengharu-birukan suasana.

Anak-anak yang sebagian besar dari Kota Bandarlampung, Kabupaten Lampung Timur, Selatan, dan Barat, serta Waykanan larut dalam lagu dengan lirik bahasa Inggris ini.

Lantaran memang misi Kim adalah menyuarakan perdamaian untuk seluruh dunia, Komentar dan apresiasi berdatangan dari masyarakat di berbagai negara. Lagu ini menceritakan derita anak-anak pengungsi dari daerah konflik Rohingya Myanmar.
menurut dia kekerasan terhadap anak harus diakhiri. Kim mengaku terharu lagunya dapat diterima oleh anak-anak dan undangan yang hadir. Dia berharap pesan perdamaian dalam lagunya tertanam pada lubuk hati terdalam pada anak-anak yang tak berdosa ini.

“Kami memulai aktivitas Dari Lampung untuk perdamaian dunia dengan sambutan yang selalu baik. Dan, semoga dengan hari anak nasional kita semakin peduli dengan keberadaan dan keinginan mereka. Jangan paksakan kehendak dan biarkan mereka mendapatkan haknya,” tutur Kim.
Lagu ‘Children With No Land’ karya Kim Commanders sang Musisi perdamaian dari Lampung pernah merajai tangga lagu Reverbnation selama dua pekan, Kim Commanders, pencipta lagu ini, mengaku terinspirasi menulis lagu ini setelah melihat,mendengar bahkan menyaksikan sendiri secara langsung penderitaan anak-anak pengungsian Rohingya Myanmar pada tahun 2013 tahun lalu.


Kim mengawali kiahnya pada 2013 tahun lalu, waktu itu dia berjumpa dengan seorang ibu pengungsi Rohingya yang sedang menggendong anaknya di kawasan Teluk Lampung, ia bersama rombongan warga Rohingya yang lain tak mengetahui arah tujuan kapal,hanya mengikuti arah angin yang menggerakkan kapal, Ibu itu mengaku bersama para pengungsi Rohingya lainnya telah melakukan perjalanan yang panjang dan berat selama berhari-hari berada di tengah laut.

“waktu itu Kim mendengarkan cerita ibu tersebut melalui seorang penerjemah, Sebab, Kim tidak tahu bahasa Myanmar, Ibu itu bercerita bahwa penumpang kapal atau pengungsi meninggal dunia satu persatu karena tak kuat menahan lapar dan dingin, termasuk anak-anak yang tak berdosa,” kata Kim dengan wajah sedihnya.
Pada saat itu juga , dirinya terharu ketika dia melihat kedua anak yang digendong Imigran tersebut.

muka lugu anak tersebut tampak pucat dan tak berdaya. Ketika diberi minum, dengan rakusnya mereka menenggak cepat satu botol air mineral, Mereka adalah anak-anak tak berdosa kata Kim meraka harus bertahan hidup di tengah konflik negaranya.

Kemudian, mereka harus mengikuti orangtuanya mencari penghidupan lain. Berharap masih ada tanah lain yang bersedia mereka pijak.


“pada waktu itu saya sanagt sedih ketika para pengungsi Rohingya di tampung selama tiga hari oleh pemerintah Indonesia, kemudian dikembalikan ke negara asalnya, Padahal, mereka yang terusir itu berharap ada kehidupan yang lebih baik di luar negaranya yang sedang berkonflik, manusia berhak mau tinggal dimana pun. Hanya dibatasi oleh dokumen saja, mereka seolah tak memiliki tempat lagi di bumi ini,” ujar Kim dengan suara sedikit bergetar.

Seniman Lampung itu memikirkan cara agar bisa membantu dunia dengan misi perdamaian. Akhirnya, terciptalah lagu ‘Chrildren With No Land’. Melalui lagu itu, Kim berharap bisa menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada semua anak-anak di belahan dunia. Kim ingin mengajak anak-anak yang nantinya jadi generasi penerus bangsa bisa lebih manusiawi dan menjunjung tinggi perdamaian, agar tak ada lagi korban konflik pada masa mendatang.
“Mulai dari anak-anaklah kita bisa tanamkan perdamaian. Mareka masih bersih dan jangan racuni dengan hal-hal aneh kepada mereka. Jangan tanamkan persaingan kepada mereka. Beritahu mereka bahwa banyak anak-anak lainnya di dunia ini yang tak bisa merasakan asyiknya bermain, indahnya kasih sayang orangtua, nikmatnya menyantap makanan enak,” tandasnya.

Dilimpahi Banyak Rejeki Seorang Pengacara Bagi-Bagi Zakat

July 15, 2015 Add Comment
Dilimpahi Banyak Rejeki Seorang Pengacara Bagi-Bagi Zakat
zakat yang dibagikan oleh M Sokheh Supriyono SH
Pekalongan
Sekitar tiga ratusan orang warga kelurahan Tirto Kota Pekalongan mengantri zakat yang dibagikan oleh M Sokheh Supriyono SH salah satu pengacara terkenal dan juga seorang pengusaha di Kota Pekalongan.

Menurut Sokheh, pemberian zakat tersebut merupakan  salah satu bentuk ungkapan rasa syukur terhadap Allah SWT atas limpahan rejeki yang diberikan juga sebagai ajang silaturahmi langsung dengan para tetangga dan juga sebuah tradisi keluarganya menyantuni fakir miskin dilingkungan tempat tinggalnya.
"Kita sudah lakukan beberapa kali pemberian zakat kepada warga di beberapa Rt sekitar yang jumlahnya mencapai 300 orang," ucapnya, Selasa (14/7/15) kepada pekalongannews.com usai kegiatan.

Disebutkan, pemberian zakat tidak berupa kebutuhan bahan pokok melainkan sejumlah uang yang setidaknya diharapkan dapat membantu para tetangga dalam merayakan lebaran tahun ini.

"Kami sekeluarga masih bisa menyisihkan rejeki untuk berbagi yang alhamdulillah dari segi jumlah baik orang yang disantuni maupun nominal uang yang diberikan selalu meningkat,"ungkapnya.Hal tersebut dibenarkan oleh Tamsir (54 th) warga Rt 03 Rw 05 Kelurahan Tirto, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan salah satu tetangga yang ikut dalam antrian.

"Saya sudah tiga kali ikut menerima zakat dan setiap tahun selalu bertambah jumlah uangnya. Alhamdulillah bisa meringankan kebutuhan lebaran dan saya titip doa kepada Pak sokheh sekeluarga agar rejekinya selalu lancar, amin," ujar Tamsir. 

Rifqy Vipera, Penyayang Binatang Liar Yang Ingin Lakukan Breeding

March 27, 2015 Add Comment
Rifky Vipera, Penyayang Binatang Liar Yang Ingin Lakukan Breeding
Rifky Vipera

Kota Pekalongan
Hobi memelihara binatang mungkin sudah biasa dilakukan  banyak orang, akan tetapi jika yang dipelihara adalah binatang buas bahkan cenderung berbahaya mungkin hanya segelintir orang yang akan menggemarinya. Salah satunya adalah Rifky Vipera‎ (21 th), bagi warga Perum Gama Permai ‎Jalan Sidomulyo nomer 45, Kelurahan Pasirkratonkramat, Kota Pekalongan ini, hewan buas yang biasanya dihindari saat berada di alam liar. Justru mendapatkan perlakuan sebaliknya, mendapat perlakuan istimewa layaknya teman sepermainan.

Masuk ke dalam rumah mahasiswa STIMIK jurusan TI ini akan sedikit terasa bau hutan. Bayangkan saja didalam rumahnya yang bergabung dengan kost-kostan mahasiswa, dipelihara beberapa hewan unik seperti ular berbisa, gecko (sejenis kadal), kucing hutan, musang bulan, tarantula beracun, biawak, iguana, American bullfrog (sejenis kodok raksasa asal negri paman sam), ikan predator asal Kalimantan dan Aligator fish ( sejenis ikan bermoncong seperti buaya aligator asal hutan basah amazon yang bisa mencapai panjang 3 meter).

“Hewan peliharaan saya sebenarnya masih banyak, beberapa hewan saya titipkan ke teman. Dan sebagian lagi saya jual, disini saya tempatkan diluar dan di dalam rumah, yang biasanya saya taruh di kandang luar. semua saya masukan kedalam rumah, Karena sering hujan, tidak mungkin saya kandang kan di luar, kasihan, lagian kalau lagi ngumpul dirumah semua jadi semarak suasananya ” ucap mahasiwa semester 4 ini.

Dihalamannya rumahnya yang cukup luas,  ada kolam ikan kecil, namun berisi beberapa ikan buas. Seperti ikan alligator asal  amazon yang bermocong seperti buaya, ikan gabus putih asal Irian dan beberapa jenis ikan pemangsa air tawar.

"‎Ikan ini masih kecil belum berbahaya, tapi sudah bisa menggigit. Cuma sekarang belum sakit tapi kalau sudah dewasa jadi sangat berbahaya tapi tidak masalah asal tahu memeliharanya. Dulu juga punya piranha, tapi saya dipelihara di akurium rumah orang tua," ucap dia.

Rifqy menceritakan, hampir semua hewan buas terutama sejenis mamalia dan reptile pernah di peliharanya. Seperti buaya, berbagai jenis ular beracun dan python, sugar gilder (Tupai terbang), bahkan untuk Musang pernah punya 15 ekor namun hanya dari dua jenis saja. Tapi kini hanya menyisakan satu ekor musang bulan bernama Temon kesayanganya.

Dari semua hewan peliharaannya, hanya dua hewan yang tidak akan dijualnya. Musang bulan berekor panjang dan berwarna emas dan kucing hutan.

 “Saya terlanjur sayang pada dua hewan ini, karena benar-benar memelihara sejak bayi. Dulu saat saya beli masih kecil (panjang kurang lebih 30 cm), kini sudah 2 meter. Apalagi setelah menang juara dua kontes musang nasional," katanya.

Diceritakan Rifqy, kebiasaan musangnya memang suka menggigit apa saja yang di sekitarnya. Kadang gigit kuping, tangan, dan lengan saya.

 “Tapi nggak apa-apa cuma gigitan bercanda," ujar dia.

Meski hanya gigitan bercanda, pria yang juga bergabung dalam banyak komunitas pecinta hewan liar itu mengaku pernah beberapa kali berdarah akibat gigitan Temon, musang kesayangannya itu.

"Kalau digigit sampai berdarah sudah biasa, lupa tidak terhitung. Paling gigitanya bukan menyerang," ujar dia.

Gigitan Temon yang membuat tangan majikannya berdarah itu, tidak membuatnya kapok. Sebaliknya, dia justru makin sayang kepada hewan omnivora tersebut.

Untuk makan hewan kesayangan diakuinya memang butuh uang ekstra. Kalau untuk hewan reptile makannya masih mudah karena tidak setiap hari. Namun khusus mamalia butuh makan setiap hari. 

Kalau untuk Musang dari pagi sampai siang menghabiskan pisang satu sisir, dan malam hari makan rebusan kepala atau sayap ayam. Sedang kucingnya sehari makan kepala ayam rebus. Untuk dua hewa itu saja, dirinya hanya mengeluarkan uang Rp 10 ribu perhari. Namun jika butuh makanan alternative bisa lebih. Setiap dua bulan, binatang kesayangannya itu diberikan vaksin dan vitamin. Karena pernah kena penyakit distemper, sejenis penyakit berkurangnya nafsu makan.

Uang untuk memelihara hewan, didapat Rifky dengan jual beli hewan, selain bisa untuk beli koleksi baru, juga untuk biaya makan.

‎"Kalau yang lain saya jual. Kecuali yang musang bulan ini, not for sale. Sebelum menang kontes, pernah ditawar Rp 1,5 juta tapi nggak saya lepas," ujarnya.

‎Wakil Ketua Komunitas Musang Batik Pekalongan (Mustika) itu menjelaskan, setiap hari Minggu rutin melakukan pertemuan pecinta musang.

‎"‎Biasanya kita ketemuan berpindah-pindah. Kadang di Jalan Mataram, Jetayu, atau di Lapangan Kedungwuni‎," ujar dia.
Rifqy Vipera, Penyayang Binatang Liar Yang Ingin Lakukan Breeding
Rifqy Vipera
Dirinya mengaku bisa cinta dengan hewan, karena sejak kecil sudah dibiasakan oleh keluarganya. Terutama kakeknya, karena sejak belia sudah diberi peliharaan ular. Sehingga menghadapi hewan buas dirinya sudah terbiasa. Dia juga sering diundang Ke Media atau sekolah-sekolah untuk unjuk aksi kemampuannya dalam menaklukan hewan buas serta mempertontokan akis hewan peliharaanya.

Rifqy memiliki cita-cita untuk melakukan breeding (ternak) hewan-hewan yang dinilai buas di alam liar. 

"Berhasil dalam menakhlukkan ular dan musang. Kemarin sudah berhasil musangnya melahirkan dua ekor, tapi sudah terjual," kata dia.
Ikan aligator yang ada di kolam depan rumahnya, rencananya juga akan diternak untuk menambah koleksi. Dia juga berencana, akan membangun kebun binatang mini di dalam kediamannya. Selain untuk koleksi juga untuk sarana ilmu pengetahuan.

Agus Triharsito Pembuat Kapal Asal Pekalongan Yang Fenomenal

February 04, 2015 Add Comment
Agus Triharsito Pembuat Kapal Asal Pekalongan Yang Fenomenal
Agus Triharsito
Kota Pekalongan
Lewat perusahaan galangan kapal PT Barokah Marine, Agus Triharsito putra daerah Pekalongan mampu menunjukan hasil karya yang luar biasa, siapa sangka dari Kota kecil seperti Pekalongan tumbuh industri kapal yang menasional, pesanan demi pesanan terus mengalir, skalanya sudah tidak lagi domestik, tapi sudah di jalur menuju go internasional. baru-baru ini Agus teken kontrak pembuatan kapal pesanan dari vietnam, sebuah prestasi yang memanggakan tidak saja untuk Pekalongan akan tetapi sebuah kebanggaan bagi Indonesia. Bukti dari kreasi tangan dinginya PT Barokah Marine tumbuh menjadi perusahaan galangan kapal yang cukup di perhitungkan.

Ratusan jenis kapal pernah dibuatnya, lelaki ramah yang juga direktur di perusahaanya tersebut tak pelit mengisahkan perjalanan karirnya,

Agus mengatakan dalam beberapa waktu kedepan akan meluncurkan kapal tunda KM Raden Fatah yang sudah dalam proses finishing.

" kami akan segera luncurkan kapal tunda, kapal sudah dipastikan jadi, tinggal menunggu pemasangan mesin dan menyelesaikan tahap finishing lalu akan kita lounching serta kami lakukan penyerahan kepada pemesan." tutur Agus ketika pekalongan-news datang berkunjung ke workshopnya di kawasan industri pelabuhan Nusantara, jalan Sekuning 2, Krapyak Lor Kota Pekalongan.

Agus ternyata bukanlah tipe orang yang mendirikan perusahaan kapal untuk mengejar keuntungan semata, jiwa sosialnya tumbuh mengingat masalalunya yang sulit, Agus masih sempat memikirkan kondisi dan potensi nelayan di daerahnya, baru-baru ini Agus merencanakan sebuah terobosan dan inovasi demi kemajuan poros maritim di Kota yang ia cintai,

Kepada pekalongan-news Agus mengatakan akan mendesain dan membuat kapal murah yang terjangkau bagi nelayan kecil di daerah nya, Agus menyebutnya Kapal Pralon namun ia masih enggan mengungkap secara detail proses dan bentuknya serta berapa biaya yang dihabiskan untuk memproduksi kapal tersebut,

Kendati demikian agus menjamin bahwa kapal tersebut kuat, tahan hempasan ombak dan yang lebih penting menurutnya adalah murah dan terjangkau.

" Ya murah untuk bisa dimiliki oleh saudara-saudara nelayan yang tergolong nelayan kecil." jelasnya.

Rupanya mimipi Agus tidak berhenti di situ saja, Agus mengisahkan sebuah keinginan untuk merangkul sekolah sekolah kejuruan yang ada di Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan guna di berikan pengetahuan tentang perkapalan.

Dalam benaknya regenerasi dengan mencetak tenaga tenaga ahli di bidang perkapalan di daerah lebih penting dari sekedar menerima tenaga ahli yang di datangkan dari luar Pekalongan.

" saya lebih senang kalau tenaga kerja kita diisi oleh anak-anak muda daerah ahli dibidang seperti yang saya geluti agar kelak mereka mengikuti jejak saya, membangun kota pekalongan yang handal dibidang kemaritiman karena pangsa pasar masih terbuka lebar." ujarnya.

Agus kepada pekalongan-news mengungkapkan rasa syukurnya di beri kesempatan untuk bisa jadi seperti yang sekarang ini, cita-citanya untuk bisa berkarya di daerahnya dengan mendirikan perusahaan perkapalan dikabulkan tuhan. lelaki yang masih slalu menjaga sholat lima waktunya tersebut juga dikenal sebagai pribadi yang supel dalam pergaulan sosial kemasyarakatan.

Dirinya Akrab dengan berbagai kalangan hingga memuluskan langkahnya untuk bisa tetap eksis, menurut istilahnya orang-orang di sekitarnya baik dari kalangan TNI, Polri, Birokrat, Media, Ulama maupun keluarga besar dan teman-temanya yang lain dijadikan pengingat manakala langkahnya mengalami kekeliruan.

Begitulah Agus dalam  kesederhanaanya laki-laki yang mempunyai motto 'Aku orang Pekalongan tidak boleh salah, komitmen sebelum melangkah' rupanya telah memegang teguh prinsipnya. Makanya ia begitu menjauhi dunia politik dan tetap fokus pada apa yang ia perjuangkan.

JOKOLID: Desakan Pembelajaran Diri Karena Tuntutan Jadi Seleb

January 18, 2015 Add Comment
Jokolid (Jokowi-Cholid)
Tiada pernah mengira seorang karyawan pabrik tekstil PT. KAHATEX di Cipacing, Ranca Ekek, Kabupaten Bandung menerjuni dunia seleb. Adalah Cholid (47 tahun) menjadi terkenal karena wajahnya yang mirip Bapak  Presiden RI, Ir. Joko Widodo, atau lazim dikenal Jokowi. Lelaki paruh baya yang tinggal di bilangan Sindanglaya, Arcamanik, Bandung ini tiba-tiba harus meroket juga namanya oleh melejitnya popularitas Jokowi di mata masyarakat. 


Kehidupan sehari-hari yang monoton sebagai pekerja pabrik sekonyong-konyong menjadi deret waktu yang harus benar-benar ditata sebaik mungkin. Dalam satu wawancara Pekalongan News dia mengisahkan, “Awal mulanya sepulang kerja aku dituntut untuk memberikan respons atas pertanyaan orang serumah, dikarenakan anak kecil putra tetangganya mengabarkan bahwa aku ada di TV. Usut punya usut ternyata Ir. Joko Widodo terpilih menjadi Gubernur Propinsi DKI Jaya.” Bola salju pun semakin menggelinding, ketika teman-teman sejawat di lingkungan dia bekerja ikut latah memberikan predikat yang mengikuti melambungnya karier jabatan Jokowi. “Dari Pak Gub, Pak Capres, hingga sekarang Pak Presiden selalu menjadi panggilanku sehari-hari. Sampai tak pernah sekalipun mereka mengingat nama asliku.” Penyebutan panggilan nama tokoh penting tidak terlalu penting baginya. Melainkan adanya kesan tertuntut untuk menciptakan suatu pengkondisian suasana sebagaimana yang dialami si pemilik nama yang cukup memberikannya sebagai suatu tantangan.


“Pertanyaan-pertanyaan bercirikan sebagaimana terlontar dari seorang wartawan atau pewawancara selalu terlontar dari orang-orang di sekelilingku. Dari waktu ke waktu seakan dipaksa untuk menyikapi segala permasalahan yang terjadi atau dialami sang tokoh sentral. Semisal, aku harus memberikan jawaban tentang kenaikan UMR Jakarta.” ujarnya.  Sebagai seorang pribadi yang tak kenal menyerah ia keberatan bila harus terdiam dan terkesan tidak menghargai sapaan apresiasi orang-orang di lingkungan pergaulannya. Ia pun berseloroh mulai berusaha menirukan gaya khas Jokowi, “Yaaa…kita lihat duluuu, gimana pengusaha, dan pekerja seperti appaaa…”


Jokolid bersama Ketua KPKL Titik Nuraini
 dalam acara Bersih Kali Loji
Pembentukan realita yang menuntut dukungan pembelajaran sendiri, khususnya dalam menyamakan segala polah tingkah perilaku sang tokoh sentral pun semakin berkembang dan berlanjut. Selanjutnya, dia pun menuturkan, “Dalam suatu acara di Taman Ismail Marzuki aku yang ngefans Jokowi tergabung dalam relawan Jokowers diminta memberikan suatu sambutan spontanitas. Sedangkan acara itu diliput oleh Metro TV dan ANTV. ” Gaung pun bersambut, dia penuh semangat berusaha menggambarkan betapa dimulai dari saat itu seakan waktu bergulir tidak seperti biasa yang dialaminya. “Jum’at acara di Jakarta itu, Sabtu sudah dipanggil untuk datang ke Jakarta lagi, dan hari Minggunya Metro TV menggarapku habis-habisan.” 


Kini Cholid sudah tidak mampu lagi menyediakan waktu pengabdiannya sebagai pekerja pabrik biasa lagi. Sudah 4 stasiun televisi nasional yang memanfaatkan profile-nya, yaitu: Metro TV, Trans 7, Trans TV, dan ANTV Dia sudah harus mengelola waktu untuk lebih  berdaya guna. Setiap hari Senin ia harus berada di Jakarta untuk mengikuti shooting sinetron “Kampung KW”, yang dilakoninya sebagai peran utama.
(PN 18012015 – AA)

Profesi Ganda Seorang Aveus Har: Penjual Mie Ayam - Penulis Novel

December 14, 2014 Add Comment
Senyum kepuasan merekah Mas Harso di sela aktivitas menutup warung Mie Ayam-nya, yang berada di Jl. Patimura (belakang BRI Cab. Wiradesa). Di awal bergulirnya malam, jarum jam pun baru beranjak mengeja angka 7 dagangan Mas Harso telah habis. Suatu ekspresi kepuasan yang mengundang rasa penasaran atas apa yang ada di balik kiat beliau dalam mengelola kesibukan sehari-harinya.


Kiranya Mas Harso telah mampu melepaskan dirinya dari belenggu latah yang lazim melekat pada umumnya para pedagang kuliner. Pemilikan suatu kerangka pemikiran yang mampu menganalisa-nya membebaskan dirinya dari seorang jati diri pekerja non-formal. Ia menuturkan, “Ada sih keinginan untuk memberi perhatian suatu selera yang lebih khas, namun idealisasi sering berbanding terbalik dengan realita. Hanya daya beli masyarakatlah yang terkadang menyita pertimbangan-pertimbangan penyesuaian harga per mangkok.”


Menit demi menit berlalu hingga menyibak sisi lain seorang Mas Harso. Kegemarannya membaca buku sejak di bangku sekolah membawanya menguak talenta yang cukup mengagumkan. Ia pun bercerita, “Sering para pelanggan Mie Ayam dan orang-orang di sekitarnya bersoloroh bahwa sebenarnya Mas Harso ini kuliah dimana qo bawaannya buku bacaan yang tebal-tebal.” Dengan berendah diri ia pun menjelaskan, “…padahal aku hanya seorang lulusan SMEA Negeri.” Kebiasaannya menjadi kutu buku tak disia-siakannya terlewat begitu saja. Kemampuan menulisnya diikuti dan dilatih terus menjadi karya-karya yang dikirimkannya pada majalah-majalah remaja seperti, Kawan Kita dan Anita Cemerlang. Kesenangannya membaca buku-buku psikologi pun kian menambah kepiawaiannya dalam menulis cerpen ataupun novel. Dengan cukup meyakinkan dia melukiskan bahwa, “Kecenderungan bekerjanya otak kaum lelaki dan perempuan itu berbeda, di satu sisi bisa berkerja bersama-sama, di lain sisi beraksi secara terpisah, bergantung apa yang sedang dikerjakan saat itu. Ide saya justru muncul dan mengalir deras di saat sibuk melayani pelanggan. Hingga di sela aktivitas sering kusempatkan menulis gambaran suatu adegan atau alur cerita pada secarik kertas, juga terkadang mengetiknya di handphone.” Kelebihannya mengenali perilaku manusia menjadikan dirinya bisa memposisikan dirinya pada tokoh-tokoh di dalam karyanya.


Selama ini dia telah mampu menghasilkan 8 judul buku novel populer bagi khalayak pembaca usia remaja. Dua buah judul di antaranya, “Sorry That I Love You” dan “Roller Coaster Cinta”, cukup lumayan banyak menyedot perhatian pembaca, dan mendatangkan hasil royalty yang cukup berarti dalam nilai rupiahnya. Sembari tertawa kecil ia mengisahkan rasa syukurnya, “Syukur Alhamdulillah…dengan rutin mengirim cerpen ke empat majalah per bulan aku bisa mengantongi Rp. 800.000,-, dan dengan mengirimkan naskah untuk diterbitkan menjadi buku aku bisa mengandalkan transfer royalty dari penerbit sejumlah kisaran nilai Rp. 300.000,- sampai dengan Rp. 3.000.000,- per semester (6 bulan).”
~Oleh: Arry Anand~