Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Pemkab Batang Deklarasikan Anti Hoax

April 28, 2017 Add Comment
Sebelum pemberangkatan Kirab Budaya, pemerintah Kabupaten Batang menggelar deklarasi anti Hoax kegiatan yang dilaksanakan di lapangan Dracik Kampus Batang, Kamis (27/4)

Deklarasi yang ditandatangani oleh Pj. Bupati Batang Siwo Laksono, Ketua DPRD Batang Imam Teguh Rahrjo, Sekda Kab Batang Nasikhin  Dandim 0736 Batang Letkol  Inf. Fajar Ali Nugraha,  Kapolres Batang AKBP Juli Agung Pramono.

Pj. Bupati Batang Siswo Laksono mengatakan gunakanlah media sosial dan gatget secara bijaksana, Bagi penyebar hoax dapat dijerat Undang - Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dengan ancaman hukuman 4 (empat) tahun penjara dan denda maksimal Rp 700 juta.
“saya sampaikan dan tegaskan kepada semua pihak agar tidak sembarangan menyebarkan informasi yang tidak benar. Karena Informasi hoax dapat menyebabkan keresahan di masyarakat." Kata Pj Bupati

Dalam kesempatan itu dibacakan deklarasi Batang Anti Hoax, dan juga meminta kepada semua komponen masyarakat untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana  memberikan informasi yang positif, misalnya untuk promosi potensi lokal, pariwisata maupun kuliner.

Bedah Buku, Memindahkan Mitos Bahurekso Kedalam Fakta Sejarah

November 14, 2016 Add Comment
Pekalongan News
Agus Sulistyo (kiri) dalam kegiatan bedah buku Bahurekso: Menyingkap Tabir Sang Legenda Tiga Kota di Gedung Aswaja Kota Pekalongan
Kota Pekalongan
Bagi masyarakat Pekalongan, sosok Bahurekso adalah legenda yang menjadi bagian dari sejarah kebesaran, asal usul dan nama Pekalongan itu sendiri. Ia selama ini dicitrakan sebagai sosok local hero yang dimitoskan oleh masyarakat setempat. Hingga muncul buku karya Agus Sulistyo berjudul, Bahurekso: Menyingkap Tabir Sang Legenda Tiga Kota.

Agus Sulistyo dengan berani memindahkan kemitosan dan kelegendaan sosok Bahurekso menjadi sebuah fakta sejarah yang ia bukukan hingga sosok Bahurekso muncul kembali sebagai tokoh nyata bukan lagi fiktif seperti yang selalu dituturkan oleh masyarakat pesisir. 
"Ini sebuah upaya yang kita lakukan untuk memperjelas keterkaitan sosok bahurekso di Pekalongan antara mitologi dan sejarah. Kita manfaatkan cerita tutur untuk menggenapi bangunan Kontruksi sejarah perjalanan Bahurekso," Demikian Agus membedah buku karyanya dihadapan ratusan audiens dalam kegiatan launching buku Bahurekso di Gedung Aswaja Kota Pekalongan, Minggu (13/11/16).
Tak mudah bagi Agus mengangkat ketokohan Bahurekso kedalam catatan sejarah yang faktual apalagi dalam bentuk sebuah buku. Sebab menurut Agus negeri ini sangat miskin literasi apalagi yang di daerah.

Selama ini, ungkap Agus, bagaimana dirinya mengartikulasikan data-data yang ada, kemudian cerita-cerita yang ada dan selanjutnya mengaitkan data sejarah tersebut lalu dikemas serta disajikan kedalam buku.
"Penggarapannya melalui survai yang lama. Baru ditulis pada tahun 2015, padahal semua data serta riset kita kumpulkan sejak tahun 2010. Dan semua itu murni swadaya tidak ada camput tangan sponsorship manapun," ungkap Agus.
Agus juga mengatakan, kalau yang ia lakukan baru membangun benang merah dan merekontruksi sejarah. Berikutnya direncanakan akan melakukan pengembangan dan pendalaman. jadi kalaulah nanti dalam proses tersebut terjadi kesalahan dan kekurangan maka akan ia revisi.
"Saya menggarap buku ini dengan senang hati. Jujur saya bahagia, sebab saya tak menduga sebelumnya kalau dampaknya ternyata diluar perkiraan," cetusnya.
Agus menyebut, inilah kekuatan riil Bahurekso yang sudah termanifestasikan kedalam bentuk dukungan teman-teman pecinta sejarah dan praktisi serta pemerhati sejarah yang hadir bersama ratusan anggota dari beberapa komunitas.
"Buku ini niatnya mau saya jadikan koleksi pribadi karena rencana awal sebenarnya mau bikin film dokumenter, untuk itu saya butuh data guna menyusun sekenario. Namun setelah data terkumpul malah jadi sebuah buku dan teman-teman malah menginginkan untuk diangkat sekalian," beber Agus.
Kesimpulan dari Tokoh Bahurekso ini, kata Agus, Bahwa dia adalah sosok sejarah yang memiliki jasa besar. Bukan karena keturunan ningrat ia lantas diangkat menjadi pejabat Mataram, namun karena ia lebih memiliki karir yang menanjak sebagai orang kepercayaan Mataram sehingga didaulat untuk mewakili kebijakan Mataram di daerah pesisiran. Terutama pesisir utara sebelah kulon.

Kisah Romantisme Batik Pekalongan Dalam Sejarah Perjuangan Di Indonesia

July 30, 2016 1 Comment
Kota Pekalongan
Ada kisah menarik tentang keterkaitan batik dengan gerakan perjuangan melawan tirani. Di masa lalu, belum afdol rasanya kalau seorang pembatik dalam hal ini para juragan batik di Pekalongan tidak menyeponsori para tokoh pergerakan terkemuka negeri ini atau bahasa lokalnya 'ngopeni' para pemimpin pergerakan di Indonesia.

Pemerhati Sejarah Pekalongan, Dirhamsyah dalam acara 'Kojahan Batik' di peringatan Hari Ulang Tahun Musium Batik ke-10 semalam mengatakan, bahwa batik selain sebagai identitas budaya juga sebagai alat komunikasi yang erat kaitanya dengan gerakan perjuangan.

"Tokoh besar seperti, Soekarno, Kartoswiryo, Adam Malik dan lain sebagainya menjadikan batik sebagai sarana untuk menjalin hubungan atau relasi dalam konteks perjuangan melawan penjajah," Ungkap Dirham dalam salah satu monolognya semalam, Sabtu (29/7/15).
Dirham melanjutkan, orang-orang Pekalongan mengenal pergerakan dari para tokoh pergerakan yang singgah di Kota Batik, bahkan para juragan batiklah yang selalu menyediakan tempat dan sumbangsih anggaran untuk perjuangan.
"Selama sebulan, Soekarno pernah di Pekalongan. Singgah dan berinteraksi dengan para juragan batik," terangnya.
Dalam sejarahnya, ketika batik pernah berjaya di tahun 1930-an tercatat ada 1195 pembatik pribumi di Pekalongan dan hanya 3 orang indo eropa yang menekuni batik sementara pembatik keturunan tionghoa ada 60-an orang.
"Hebatnya sejak abad 18, ada dua orang peranakan china Pekalongan atau keturunan pembatik tionghoa yang masih bertahan hingga sekarang. Salah satunya keluarga Oey Soe Tjun," jelas Dirham.
Dalam sebuah catatan sejarah lagi menurut Dirham, di tahun 1923 pernah terjadi even pekan batik nasional yang dihelat di alun-alun Kota Pekalongan yang sekarang.
"Itu salah satu peristiwa besar yang terjadi di Pekalongan pada masa itu," ujarnya.
Dan hal yang paling penting dalam sejarah perjalanan batik di Indonesia adalah sosok salah satu Bupati Pekalongan yang masih keturunan tionghoa muslim, Adipati Djayanigrat yang berinisiatif menanam sebuah tanaman yang berasal dari daratan eropa untuk dikembangkan di Pekalongan.
"Dan dari tanaman inilah pewarna alam biru indigo ditemukan oleh sang Bupati. Sejak itu warna biru indigo melengkapi sejumlah warna yang sudah kita dikenal sebelumnya," papar Dirham.
Sementara itu dalam acara HUT Musium Batik ke-10 semalam juga meghadirkan Begawan Batik kondang, Dudung Alisyahbana yang mengetengahkan tema memahami batik tidak saja secara teks tapi juga harus secara konteks karena batik juga memiliki nilai spiritual yang tinggi.

Ini Dia Tiga Tradisi Budaya Islam Di Krapyak Pekalongan Yang Masih Dijalankan Hingga Kini

July 13, 2016 Add Comment
Kota Pekalongan
Ada tiga tradisi keagamaan yang masih terus dilestarikan sebagai bagian dari sejarah perkembangan budaya islam di Kota Pekalongan terutama di Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara. Tiga tradisi tersebut sampai sekarang masih bisa dinikmati, itu semua terjadi dalam satu tahun kalender.

Yang pertama Sya'banan. Bagi warga Krapyak, Sya'banan memiliki arti penting bagi kehidupan beragama masyarakat setempat. Karena tradisi Sya'banan tak lepas dari peran ulama besar Syech Muhyidin Bin Yahya, Seorang saudagar kaya pendatang dari luar Krapyak.

Seperti dituturkan KH Zaenudin Ismail, ulama kharismatik Krapyak menyampaikan bahwa di masa lalu, pantai Pekalongan merupakan pelabuhan yang ramai dan banyak disinggahi oleh para saudagar dari penjuru nusantara.

"Saudagar dari Bugis datang dan menetap di seputar wilayah pesisir Pekalongan. Mereka membangun pemukiman baru yang sekarang kita kenal sebagai Kampung Bugisan. Begitupun dengan saudagar asal Sumbawa yang mendirikan pemukiman di Krapyak Kidul. hingga sekarang kita mengenalnya sebagai Kampung Sumbawan," terang Kyai yang juga ahli sejarah perkembangan islam di nusantara.
Sebutan Sya'banan pertama kali dikenalkan oleh Syech Muhyidin Bin yahya di tahun 1800-an. Sya'banan berasal dari kata Sya'ban salah satu bulan dalam kalender islam. Sya'banan sendiri berlangsung menjelang Hari Raya Idul Fitri tepatnya di pertengahan bulan Sya'ban.

Selain sebagai saudagar, Syech Muhyidin Bin Yahya dikenal juga sebagai ahli fiqih dan sangat alim. Beliau masih keturunan Sunan Muria, sanaknya bila dilacak dari silsilah masih menyambung ke Sunan Muria.

Menurut KH Zaenudin Ismail, Syech Muhyidin Bin Yahya semasa hidupnya sangat dikenal sebagai ahli pengobatan islami. Dan beliau di Krapyak dikenal Sebutan Mbah Wahyah karena sak wayah-wayah (setiap saat-red) melayani masyarakat yang membutuhkan jasanya atau keahlianya.
"Dari Mbah Wahyah inilah masyarakat Krapyak mengenal Sya'banan. Karena sangat pentingnya Sya'banan, Masyarakat Krapyak senantiasa melestarikan tradisi tersebut. Sebab di bulan sya'ban, 300 pintu rahmat dibuka. Malam itu, pintu ampunan dibuka kecuali 3 perkara. Orang Musyrik, syirik dan orang yang memutuskan tali silaturahmi," jelas Kyai Zaenudin Ismail.
Yang kedua Syawalan.
Syawalan berasal dari kata syawal, masih salah satu dari nama bulan dalam kalender islam. Istilah Syawalan pertama kali diperkenalkan oleh Romo KH Abdulloh Syirod. Salah satu ulama paling terkenal dan kharismatik dalam sejarah perkembangan islam di Krapyak.

Sepeninggal Syech Muhyidin Bin Yahya, munculah ulama yang memiliki kharisma yang luara biasa bernama KH Abdulloh Syirod. Beliau hidup di masa penjajahan kolonial Belanda. Sepak terjang Romo KH Abdulloh Syirod inilah yang selalu membuat repot Belanda. Karena kharisma beliau, umat islam Pekalongan bisa bersatu. Hal tersebut tak bisa dipungkiri karena Romo KH Abdulloh Syirod berjasa memunculkan tradisi syawalan yang nyata-nyata mampu mempersatukan seluruh umat islam dan masyarakat Pekalongan pada umumnya.

Menurut KH Zaenudin Ismail, sejarah Syawalan diawali ketika umat islam mengikuti kebiasaan Romo KH Abdulloh Syirod berpuasa sehari setelah Hari Raya Idul Fitri selama enam hari. Saking banyaknya masyarakat Krapyak yang berpuasa, banyak pula saudara handai taulan, kerabat, teman, kenalan, kolega dan lain sebagainya merasa risih kalau mau bersilaturahmi atau bertamu kepada umat islam di Krapyak. Karena mereka tahu selama enam hari tersebut umat islam di Krapyak sedang berpuasa. Padahal masih dalam suasana lebaran.
"Akhirnya pada hari ketujuh setelah lebaran atau setelah masyarakat Krapyak menuntaskan puasa, seluruh umat islam di luar Krapyak berbondong-bondong, tumpah ruah memadati Krapyak untuk untuk bermaaf-maafan setelah tertunda," ujar KH zaenudin Ismail.
Tradisi Syawalan sendiri sebenarnya merupakan taktik brillian Romo KH Abdulloh Syirod dalam mempersatukan umat islam dan rakyat Pekalongan. Karena melalui tradisi Syawalan umat islam dan rakyat Pekalongan bisa dipersatukan dan taktik tersebut Belanda terkecoh. Belanda tidak menyadari kalau semua itu adalah muslihat yang dilakukan oleh Romo KH Abdulloh Syirod.
Baca Juga  Mengenal Tradisi Syawalan Di Kota Pekalongan



Setelah sekian lama akhirnya Belanda mencium adanya persatuan umat islam dan rakyat Pekalongan melalui tradisi Syawalan. Sehingga semua ulama yang memliki pengikut terancam dibunuh oleh Belanda.
"Romo KH Abdulloh Syirod sendiri kalau ditelusuri jejaknya masih nyambung dengan silsilah dari cucu Bahurekso, salah satu tokoh pendiri Pekalongan," ungkap KH Zaenudin Ismail.
Yang ketiga potong Lopis
Lopis adalah salah satu penganan khas Pekalongan yang terbuat dari beras ketan yang dikukus dan dibungkus daun pisang yang diikat kuat untuk menjamu tamu dan adanya di bulan-bulan terten tu. Kemunculan Lopis ditengarai juga atas andil Romo KH Abdulloh Syirod.

Seperti disinggung pembahasan diatas, ketika seluruh umat islam dan rakyat Pekalongan berbondong-bondong dan tumpah ruah ke Krapyak untuk bersilaturahmi, kedatangan sedemikian banyak orang secara bersamaan waktunya sempat membuat bingung dan resah warga Krapyak. Mereka bingung mau menjamau apa, karena sebagai tuan rumah tentunya tidak mau mengecewakan tamu yang datang.

Akhirnya disiasati, seluruh warga Krapyak patungan. Mereka iuran beras ketan dan dimasak ramai-ramai membuat Lopis yang nantinya akan dihidangkan sebagai sajian para tamu. Sedangkan kebiasaan memotong Lopis raksasa dalam tradisi syawalan baru muncul pada tahun 1956. Ukuran Lopis pada masa KH Abdulloh Syirod masih setandar. Tidak ada ukuran baku untuk lopis pada waktu itu. Hanya saja pada tahun 1956 mulai diadakan tradisi memotong lopis dengan ukuran jumbo. Pelopornya tokoh masyarakat setempat seperti, Khanafi, Ismail, Syafi'i, Madenur dan salah satu pemudanya bernama Anas.

Di tahun-tahun awal yang melakukan seremoni pemotongan lopis adalah tokoh masyarakat lantas berkembang Lurah, Camat dan akhirnya Walikota. sementara untuk ukuran lopis dari seukuran batang pisang lalu berkembang menjadi seukuran batang pohon kelapa terus meningkat seukuran drum hingga ukuran raksasa seperti sekarang. Dan sekarang muncul lopis di mana-mana.
"Dulu memasak dan menaruh lopis untuk acara Syawalan selalu berpindah-pindah hingga akhirnya ada di dua tempat. Di Krapyak Lor dan Krapyak Kidul," ujar KH Zaenudin Ismail.
Itulah tiga tradisi islami yang masih bertahan dan senantiasa dilakukan oleh warga Krapyak, Kecamatan Pekalongan utara, Kota Pekalongan. Semuanya menjadi kekayaan budaya rakyat Pekalongan yang religius. Bagi anda yang penasaran, luangkan waktu ke Pekalongan dan nikmati pesonanya meramaikan tradisi yang masih lestari.

Inilah Penampakan Dua Lopis Raksasa Dalam Tradisi Syawalan Di Kota Pekalongan

July 12, 2016 2 Comments
Kota Pekalongan
Inilah penampakan dua lopis raksasa yang nantinya siap disajikan kepada puluhan ribu masyarakat yang akan menyesaki dua lokasi lopis raksasa berada, dalam sebuah tradisi Syawalan yang sudah berjalan turun temurun.
Kedua lopis raksasa tersebut ditempatkan masing-masing di Krapyak Kidul dan Krapyak Lor.

Menurut Ketua panitia penyelenggara Syawalan di Krapyak Lor, Ahmad Timbul (60 th) mengatakan, pembuatan lopis raksasa tahun ini menghabiskan bahan baku beras ketan mencapai 1,7 ton dan dimasak terus menerus selama 5 hari 5 malam.

"Saking beratnya, untuk mengangkat lopis raksasa dari lokasi memasak ke lokasi yang sekarang harus menggunakan crane," ungkapnya saat ditemui di kediamannya.
Ahmad Timbul menyebut, lopis raksasa tahun ini lebih berat dari pada tahun sebelumnya.
Inilah Penampakan Dua Lopis Raksasa Dalam Tradisi Syawalan Di Kota Pekalongan
Penampakan lopis raksasa krapyak kidul 
Penampakan lopis raksasa Krapyak Lor


"Kalau untuk tinggi dan diameter relatif sama, dengan tinggi 2 meter dan diameter 80 centimeter. Hanya bobotnya saja yang berbeda," terangnya.
Dijelaskan Dia, pembuatan lopis raksasa menghabiskan anggaran sebesar Rp 13 juta. Dan total anggaran yang dihabiskan untuk penyelenggaraan perayaan syawalan tercatat Rp 24,2 juta.
"Anggaran segitu masih saya gunakan untuk membiayai penyelenggaraan lomba-lomba seperti, panjat pisang dan pukul kendil. semuanya untuk meramaikan syawalan," jelasnya.
Sementara itu menurut wakil panitia syawalan Krapyak kidul, Muta'in menyampaikan, ditempatnya lopis raksasa berukuran tinggi 2 meter dan berat mencapai 1,3 ton.
"Ukuran tersebut masih sama dengan tahun kemarin, karena alat memasaknya atau dandang untuk mengukus lopis ukuranya tetap. Jadi ukuran juga ikut sama," ungkap Muta'in di lokasi.
Anggaran untuk menyelenggarakan Syawalan tahun ini sebesar Rp 26juta.
Semua sudah dipergunakan akan tetapi belum termasuk panggung acara dan tenda.
"Bantuan yang diterima panitia dari pemerintah sebesar Rp 24,2 juta sisanya ditutup dengan swadaya masyarakat," jelas Muta'in.





Mengenal Tradisi Syawalan Di Kota Pekalongan

July 12, 2016 2 Comments
Mengenal Tradisi Syawalan Di Kota Pekalongan
Inilah lopis raksasa yang menjadi bagian dari tradisi syawalan di Kota Pekalongan


Kota Pekalongan
Syawalan atau hari ke tujuh setelah Idul Fitri menjadi puncak perayaan lebaran yang selalu heboh di peringati oleh masyarakat Kota Pekalongan terutama di wilayah Pekalongan bagian utara. 


Tradisi tersebut oleh masyarakat setempat akrab disebut Syawalan. Mau tahu lebih banyak keseruan Syawalan, ikuti terus kisahnya...

Menjelang Syawalan biasanya mulai bermunculan warga menggelar lapak dengan berjualan lopis (Sejenis penganan dari beras ketan yang dikemas seperti lontong) yang betebaran di pinggir-pinggir jalan.

Puncak peringatan Syawalan ditandai dengan pemotongan lopis raksasa, ukuranya memang benar-benar jumbo lebih dari 2 meter, diameternya rata-rata 80 an centi dan bobotnya bisa mencapai 1 ton lebih. Itupun tak cukup satu, ada dua lopis raksasa yang dipotong. Satu berada di Krapyak Lor dan yang satu berada di Krapyak Kidul.

Semuanya akan dipotong untuk pertama kali sebagai tanda dimulainya tradisi syawalan. Biasanya setelah diawali dengan seremoni dan doa, Walikota Pekalongan akan memangkas ujung lopis kemudian potongan-potongan kecil dari lopis akan dibagikan ke beberapa tokoh masyarakat yang hadir pada waktu itu. Selanjutnya separo badan dari lopis akan dibagikan ke penonton yang datang dari segala penjuru. Yang seru adalah pada bagian tersebut karena seringnya ribuan penonton akan berebut dan berusaha menjarah lopis karena menurut kepercayaan mereka, setelah lopis didoakan maka yang mendapat potongan lopis dan memakanya akan mendapat keberkahan.

Setelah prosesi pemotongan lopis selesai maka puluhan ribu orang yang hadir akan saling bersilaturahmi dan bermaaf-mafan dengan mengunjungi saudara, teman, kenalan bahkan tidak mengenal sekalipun. Mereka akan dijamu sebagai tamu oleh seluruh warga Krapyak. Pintu-pintu rumah warga selalu terbuka menanti tamu yang datang.

Bisa dipastikan, hari itu seluruh rumah warga akan penuh sesak oleh kehadiran tamu yang jumlahnya ribuan. Tuan rumah biasanya menyediakan menu tradisional setempat, selain lopis juga ada penganan tradisional lain dan yang tidak pernah tertinggal dalam menu yang disuguhkan, selalu ada yang namanya 'Lotis' (Lotekan-istilah setempat) berupa irisan berbagai macam buah yang disajikan bersama sambal gulajawa. Lotis juga sering disajikan bersama kerupuk khas lokal yang dinamakan 'Kerupuk Usek', sebuah kerupuk yang pembutanya tidak digoreng dengan minyak akan tetapi digoreng menggunakan pasir yang dipanaskan. Warga setempat menyebutnya 'Mie Usek'.

Seru bukan, bagi anda yang ingin menikmati keseruan tradisi Syawalan bisa datang langsung ke lokasi, sebaiknya hadir lebih awal sekitar pukul 07.00 pagi untuk bisa menyaksikan syukur-syukur bisa mengabadikan prosesi dari awal hingga akhir dan jangan lupa cari posisi yang strategis untuk bisa melihat semua view dengan sempurna. Jangan lupa Syawalan tahun ini akan digelar pada hari Rabu (13/7/16).

Mencari Jejak Sintren, Kesenian Rakyat Asli Pekalongan Yang Telah Punah

January 31, 2016 7 Comments
Mencari Jejak Sintren, Kesenian Rakyat Asli Pekalongan Yang Telah Punah
Suyono menemukan kembali gairahnya melaui sintren, hiburan yang lampau pernah jadi kesenian favoritnya, semangatnya kembali muda, menarilah ia seperti dahulu

Pekalongan
Sintren, Kesenian ini dulu akrab bagi masyarakat sepanjang pesisir pantura barat Jawa tengah bahkan sampai ke wilayah Jawa Barat. Kini keberadaan kesenian rakyat tersebut sulit sekali dicari, keberadaanya kini semakin terpinggirkan dan seperti hilang begitu saja tanpa ada yang melestarikan kendati harus menjelajahi Pekalongan dan Pemalang, Sintren sudah hilang jejaknya.

Sebenarnya dari mana asal kesenian sintren dan harus kemana untuk mencarinya, pertanyaan itu akan sulit terjawab hingga akhirnya muncul sekelompok seniman sintren yang berusaha menghidupkanya kembali.

Untuk kembali mempopulerkanya, kelompok ini harus berkeliling dari satu Desa ke Desa lainya. Cara ini ditempuh demi membangun kembali ingatan generasi tua yang dulu sempat menikmati kejayaan seni tradisional yang melintasi ingatan sejarah di dalam kepala mereka sekaligus menyambungkannya dengan generasi yang hilang saat sintren perlahan redup pamornya dan benar-benar hilang saat generasi muda sekarang tidak tahu sama sekali tentang sintren dan hanya bisa membuka lembaran buku-buku tua atau menjelajah dunia maya untuk sekedar mengetahui literasi dari jejak nostalgia sintren itu sendiri. 
Selain itu, pegiat seni sintren ini melakukanya juga karena alasan yang klise, menggunakan kesenian sintren ini untuk mengamen yang hasilnya untuk menghidupi kru pelaku kelompok seni sintren. Klise memang, tapi itu masih lebih baik karena negeri ini sudah tidak ramah bagi hidupnya seni rakyat. 

Negara hanya peduli pelestarianya melalui diskusi-diskusi, buku-buku dan dokumentasi agar termuat dalam arsip-arsip yang memenuhi khasanah ilmu serta memenuhi rak-rak perpustakaan sekolah dan perpustakaan negara.

Negara sudah lupa caranya melestarikan kesenian tersebut secara langsung, melalui para pelaku seninya, mengupayakan ke berlangsungan seni itu sendiri supaya tetap eksis dengan memperbanyak ruang-ruang pembelajaran seni khas tersebut untuk tetap hidup.

Penulis menemukan kesenian sintren dimainkan di wilayah Bojong, Kabupaten Pekalongan. Saat itu sintren sedang ngamen berkeliling dikawasan tersebut. Mereka mengandalkan rupiah dari kerelaan penonton yang mengerubuti arena sintren dimainkan selebihnya hanya uang saweran yang menjadi andalan peng hasilan penari-penari perempuan belia dan para kru untuk tetap semangat mela ngkahkan kaki berkeliling menjajakan sintren.

Aroma mistis menyeruak saat tangan-tangan keriput memainkan musik gamelan dengan sound sistem seadanya dan kurungan kain yang akan menjadi anti klimaks dari ritual kesenian sintren mulai dipersiapkan. Hampir semua penabuh gamelan berusia uzur, hanya sang penari yang berusia belia karena laksana tayub, lewat kelincahan gerak dan gemulainya tubuh sang penarilah yang akan menarik minat para lelaki untuk memberikan saweran dengan cara menari bersama mengikuti ritme alunan gamelan bertempo rancak.

Dipercaya, sang penari yang sudah dimasukan kedalam kurungan kain akan kerasukan roh bidadari. Tubuh sang penari akan bersolek sendiri tanpa sang penarinya menyadari. Aktifitas mistis selama sang penari dalam kurungan kain menjadi hal yang ditunggu, rasa penasaran penonton akan terjawab saat sang penari keluar dari kurungan dalam keadaan sudah bersolek cantik dan penaripun siap beraksi dengan tarian yang konon mampu menarik minat penonton laki-laki baik tua maupun muda untuk ikut menari.

Hanya saja ada aturan tersendiri yang sudah menjadi bagian dari kearifan lokal, penonton yang ikut menari bersama dilarang menyentuh tubuh sang penari. Penonton diperbolehkan menari bebas sekalipun itu dengan gaya sedikit erotis namun larangan tersebut jangan sampai dilanggar.

Kalaupun ada yang coba-coba melanggar maka sang penari akan jatuh pingsan pertanda bidadari yang merasuki tubuh sang penari telah pergi. Yang unik, penari sintren tadinya pingsan bisa kembali sadar dan terasuki kembali roh bidadari bila sang pawang telah mengasapi muka sang penari dengan asap dupa dalam wadah sang pawang.


Dikisahkan, kisah kasih asmara antara seorang gadis bernama sulasih dengan Raden Sulandono putra dari Bahurekso dan Dewi Rantamsari tidak direstui oleh kedua orang tuanya. Kecewa dengan dengan kedua orang tuanya, Raden Sulandono memutuskan untuk pergi menyepi dengan bertapa di suatu tempat sedangkan sulasih sedih ditinggal pergi kekasinya tersebut akhirnya memilih menjadi seorang penari. 

Melihat putranya pergi membawa kesedihan dan kekecewaanya dalam pertapaanya, secara diam-diam Dewi Rantamsari, ibunda Raden Sulandono mengatur pertemuan kedua sepasang kekasih yang telah terpisahkan tersebut dengan melalui pertemuan ghaib.

Dengan menggunakan kesaktianya, Dewi Rantamsari memasukan roh bidaari kedalam tubuh Sulasih yang sedang menari sementara pada saat yang sama roh dari Raden Sulandono dipanggil pula untuk hadir menemui kekasihnya Sulasih yang sudah terasuki roh bidadari. 

Dari kisah pertemuan ghaib antara roh raden Sulandono dengan Sulasih yang sudah terasuki roh bidadari itulah masyarakat pesisiran Pekalongan dan sekitarnya mengenal seni Sintren dan sejak saat itu tarian sintren yang dibawakan oleh penari sintren akan terasuki roh bidadari.

Kendati ada banyak versi tentang legenda sintren, namun apapun versinya kesenian sintren terlanjur legendaris bagi masyarakat yang tersebar di kawasan pesisir pantura barat Jawa Tengah. Dan sekarang kesenian tersebut mulai menggeliat kembali dan agaknya semangat untuk menghadirkan lagi kesenian sintren oleh kelompok masyarakat pegiat seni sintren di Bojong patut kita apresiasi meskipun tidak mudah tapi sudah melakukan langkah awal untuk mengakrabkan kembali nostalgia sintren di kalangan generasi sekarang.


Ditemui di arena pertunjukan sintren, Suyono, lelaki tua yang susah mengingat umurnya yang jelas sudah kepala tujuh lebih, mengatakan, dirinya sejak muda sering menonton sintren dan selalu memberi saweran saat ikut menari.
"Ini kesenian asli pantura. uniknya sintren sekarang penarinya ada bunga-bunga di kepalanya dan jogetnya pun lain dengan sintren jaman dulu, sekarang jumbul-jumbul gitu," ujar Suyono sambil semangat memperagakan tarian jumbul-jumbul yang dimaksud.
Lain kata Suyono lain pula menurut Laras, gadis manis yang jadi penari sintren. Menurut Laras, menjadi penari sintren banyak pengalaman pahit yang di dapat.
"Dari mulai halangan alam seperti hujan sampai mendapat saweran hanya sedikit. Pernah sekali mendapat saweran jumlahnya hanya sepuluh ribu rupiah, tapi tetap semangat," katanya menerawang.
Ketika ditanya alasan mengapa memilih jadi penari sintren, gadis manis yang sedari kecil sudah akrab dengan seni tari ini menyampaikan, dirinya memilih sebagai penari sintren karena ala suka khususnya tarian Jawa.


Mencari Jejak Sintren, Kesenian Rakyat Asli Pekalongan Yang Telah Punah
Suyono meski telah berumur ternyata masih lincah mengikuti ritme tarian sintren, syono begitu menikmati tarian sintren sesuatu yang sudah lama ia temui dan dapatkan, gairah untuk kembali beraksi seperti waktu muda dulu
"Selain itu juga karena ingin menyelamatkan dan melestarikan budaya jawa yang hampir punah terutama sintren, karena sintren sudah jarang orang yang memainkanya," tuturnya.
Senada dengan yang diungkapkan Laras, pimpinan kelompok seni sintren Bunga Seroja, Sumanto mengamini apa yang disampaikan Laras.
"Pas kita sudah berangkat tiba-tiba lokasi yang dituju turun hujan. Dan juga terkadang harus bentrok acara lain," ujarnya.
Sumanto juga menyampaikan, dirinya sudah membangkitkan kesenian sintren lebih dari dua tahunan. Jadi sudah lumayan kenyang pengalaman.
"Saya ingat, pernah suatu kali selama dua hari kita mainkan sintren hanya mendapatkan saweran uang sepuluh ribu rupiah. Jadi sehari cuman dapat lima ribu," katanya sambil tersenyum kecut.
Begitulah fakta yang dapat kita tangkap di lapangan, Betapa butuh kekuatan lebih dan semangat yang luar biasa untuk menghidupkan seni di negeri yang konon terkenal sangat kaya akan seni dan seniman dimana dunia sudah mengakuinya. Akan tetapi itu akan berbanding terbalik dengan keadaan sesungguhnya

Disini, ditanah seni. Hidup sebagai pegiat seni tidak bisa menjanjikan kesejahteraan karena hanya butuh pengakuan dari pemerintah saja sudah sangat susah. Saking banyaknya jumlah kesenian yang ada di negeri ini, butuh persaingan untuk menaklukan hati pemerintah agar bisa diopeni dan diakui sebagai kesenian yang mampu mengangkat derajat serta mengharumkan nama entah siapa.

Ribuan Orang Ikuti Pekalongan Batik Carnival

August 04, 2015 Add Comment
Ribuan Orang Ikuti Pekalongan Batik Carnival
Pekalongan Batik Carnival 2015
Kota Pekalongan
Sebanyak 1600 warga Kota Pekalongan mengikuti Pekalongan Batik Carnival 2015 yang digelar Minggu (2/8/15) tidak saja warga biasa seperti pelajar dan mahasiswa, Pekalongan Batik Carnival juga diikuti oleh seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kota Pekalongan. Hampir semua SKPD menyertakan tema khas dalam pawai tersebut.

Selain memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke 70, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan Pekan Batik dan Inovasi Kota Pekalongan 2015 yang dibuka sejak Kamis (30/7/15) hingga senin (3/8/15).

Dimulai dari Alun-alun kota Pekalongan, iring-iringan karnaval menyusuri beberapa ruas jalan di Kota Pekalongan hingga berakhir finis di Komplek Budaya Jatayu sejauh 5 km.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Pekalongan Dwie ari putranto menyebut, acara ini sudah secara rutin diselenggarakan di kota Pekalongan, meski acara kali ini dimajukan penyelenggaraanya.

"Acara ini selain memperingati HUT RI ke 70 juga sebagai ajang perpisahan walikota Pekalongan yang tinggal beberapa hari lagi,"ucapnya usai mengibarkan bendera start di Alun-alunKota Pekalongan.

Dwie juga berharap Pekalongan Batik carnival dapat terus berlangsung dan dapat dijadikan destinasi wisata khas Kota Pekalongan.

"Harapanya ada dampak positif dari penyelenggaraan festival Batik ini karena banyak warga Kota Pekalongan yang menggan tungkan hidupnya dari Batik,"tuntasnya.

Kisah Ulama Syech Tholabuddin Penyebar Agama Islam Dan Pejuang Melawan Belanda

June 29, 2015 4 Comments
Di Desa Masin Warungasem Batang terdapat sebuah makam wali, yang diperca ya sebagai tokoh penyebar agama Islam. Seperti apa?

Makam Syech Tholabuddin terletak di dukuh Pekuncen atau tepatnya di areal pemakaman dekat Kantor Desa Masin Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang. Setiap bulan Sya'ban masyarakat setempat selalu memperingati haul nya.

Diceritakan oleh salah satu tokoh masyarakat sekaligus peneliti sejarah Syech Tholabuddin, KH Amshori, Syech Tholabuddin bermukim di Masin pada Periode Mataram Islam.
"Nama aslinya tidak pernah dibawa. Kalau di beberapa tulisan, nama-namanya itu sebenarnya dilebih-lebihkan, tidak ada bukti sejarahnya," ucap KH Amshori.
Dijelaskan, bahwa para ulama dan wali jaman dulu memang jarang membawa nama aslinya. Sebagain besar penamaan dikarenakan kondisi lingkungan dan daerah masing-masing. 
"Seperti untuk mbah Tholabuddin, berasal dari kata Jawa telo budin, kalau dulu telo disamakan dengan orang yang bodoh. Dengan maksud mbah Tholabuddin bermaksud merendahkan diri dihadapan masya rakat," terangnya. 
Cungkup makam Syeh Tholabuddin
"Sedang kalau istilah Arab nya Tholabuddin,  orang yang mempentingkan kepentingan agama (Islam)," lanjut KH Amshori kepada koran saat ditemui di rumahnya Desa Candiareng tempatnya sekarang.
Dijelaskan lebih lanjut, masuknya ulama Islam di Batang Pekalongan dan sekitarnya, dulu seiring didirikannya pemerintahan pertama dulu. Yang berpusat di Batang, dengan pimpinan Ki Ageng Pekalongan, menjelang perang Mataram pertama. Namun masih mengnginduk ke Kaliwungu, yang dulu dijuluki Mataram Kendal, karena tempatnya kumpulnya Wali.

Adanya pemerintahan atas perintah Sultan Agung juga diikuti masuknya Wali dibawah pimpinan Mbah Baurekso. Dengan penasehat Kyai Agung Cempaluk, mbah Syech Kramat Pasekaran, Syceh Jambukarang dan pasukan perang yang dipimpin Mbah Gede Petanasangin (pasukan khusus). Sedangkan Syech Tholabuddin sendiri datang dimasa perang mataram kedua, setelah masa Mbah Baurekso.

Kedatangan Syech Tholabuddin juga beserta saudaranya, Mbah Dalabuddin dan Akrobuddin. Mbah Dalabuddin, kini dimakam di Dracik Kota Batang. Adik Syech Tholabuudin ini dikenal dengan kharomnya ilmu pemerintahan. Salah satu keturuannya adalah Santoso, yang pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Batang 20 tahun lalu.

Sedang saudara lainnya, Akrobuddin,  kakaknya di makamkan di Desa Kaliyoso Cepiring Kendal. Peninggalan karomahnya, di masjid Jami ada 4 soko, jika dilihat miring berarti jiwanya sedang tidak baik.
 "Mbah Akrobuddi juga menjadi donatur saat perang Mataram Islam melawan VOC, sampai dirinya dijuluki Utsman bin Afan Jawa," terangnya.
Sedang Syech Tholabuudin sendiri diberi kharomah atau kelebihan ke ilmu Syariat tapi juga cukup memiiki harta yang cukup. Salah satu bukti sejarahnya, bisa mengislamkan Mbah Gono. Yang mana di jamannya dikenal sebagai tokoh Umat Hindu. Bahkan akhirnya mbah Gono juga menjadi salah satu muridnya sebagai ulama di Masin.

Karomahnya yang lain, pernah pada suatu saat Kyai Senari Cepiring sekitar tahun 1980 an berziarah dengan jamaah di makam Tholabuddin. Secara isyarat dipersilahkan jamaah mengambil uang di pojok makam, tempatnya dibawah gentong yang mana terlihat banyak sekali yang. Namun pada waktu itu, Kyai Senari tidak berkeinginan dalam urusan keduniaan, lebih mengutaman keberkahan dan jamaahnya juga mengamini.

Dari segi keilmuan, nasab ilmu Syech Tholabuddin belajar ke Kyai Asy'ari (Kyai Guru) di Kaliwungu Kendal, yang merupakan pendiri Masjid Jami Kaliwungu yang dimakamkan di Protomulyo Kaliwungu.
 "Sedang nasab ilmu ke Walisongo belajar dari ke Sunan Drajat, dan menyambung ke Sunan Ampel," jelasnya.
Bukti sejarah perjuanagn Syech Tholabuddin juga sering diperingati, setiap Maulud Nabi dengan menggelar Kirab Merah Putih. Yang merupakan simbol perjuangan rakyat Masin dipimpin Syech Tholabuddin mengusir penjajah dengan berjalan kaki ke Pekalongan. Karena di masanya, hanya Warungasem terutama Masin yang tidak bisa dimasuki penjajah, sehingga pasukan Masin diperbantukan ke Pekalongan.

Makanan yang menjadi kegemaran Syech Tholabuddin adalah sego liwet, lauk gereh perek dan sayur gandul. Ternyata tidak hanya sekedar makanan saja, karena memiiki makna filosofis yang cukup tingi.

Dari makna sego liwet, yang beruma nasi sangat matang berarti bahwa setap umat harus mematang kan syariat (Islamnya). Lauk gereh perek (ikan yang kepalanya besar, dagingnya dikit lebih banyak duri), degan filosofi setiap umat muslim setiap makan harus hati-hati, antara makan halal haram dan subhat. Juga harus hati-hati dengan urusan batin (ilmu santet) karena pada saat itu sangat banyak sekali.

Sedang kuluban (sayuran) godong gandol (daun pepaya), mengandung makna banyak wasilah (manfaatnya).
 "Sebagai masyarakat(saat itu)  lebih baik ngandul atau jadi makmun jangan ambisi jadi pemimpin. Karena ambisi jadi pemimpin tidak baik," terangnya.
Diceritakan karena pada saat itu, setelah Islam cukup kuat banyak orang yang mengaji di Wali Muria. Namun sekembalinya, semua pada berlomba-lomba ingin menjadi imam dan pemimpin masyarakat. Sehingga Syech Tholabuddin mengingatkan agar semua saling mengalah untuk kebaikan.

Pek Cun Dari Mendirikan Telur Hingga Larung Kapal Sesaji Mampu Tarik Wisatawan Asing

June 21, 2015 Add Comment
Pek Cun, Dari Mendirikan Telur Hingga Larung Kapal Sesaji Mampu Tarik Wisatawan Asing
salah satu ritual Pek Cun 
Kota Pekalongan
Rangkaian Festival Pek Cun yang dimulai sejak tanggal 18 juni lalu mencapai puncaknya pada hari Sabtu (20/6/15) kemarin. Dalam ritual Pek Cun yang di pusatkan di lokasi wisata Pasir Kencana Kota Pekalongan cukup menyedot animo masyarakat untuk menyaksikan prosesi sembayangan sedekah laut, apalagi jelang tengah hari yang banyak ditunggu karena konon tepat jam 12.00 siang tengah hari menurut kepercayaan, kita dapat mendirikan sebuah telur secara tegak lurus

Tak hanya masyarakat kota Pekalongan saja yang antusias menyaksikan acara tersebut, bahkan Festival Pek Cun Pekalongan Mampu Tarik Wisatawan Asing salah satunya wanita cantik asal Rumania yang mengaku sudah tiga tahun tinggal di Jogjakarta, dirinya sengaja menyempatkan diri mampir ke kota Pekalongan untuk melihat dari dekat ritual Pek Cun tersebut.
Flavia turis asal Rumania sukses mendirikan telur kurang dari 30 detik dalam festval Pek Cun

" Saya sangat senang memperhatikan masalah kebudayaan untuk itu saya datang dari Rumania untuk belajar budaya ke Indonesia dan saya sudah tinggal di Jogjakarta selama tiga tahun," ujar wanita pirang yang cukup mahir berbahasa Indonesia ramah.

Tidak saja cukup menguasai pengetahuan budaya, Flavia begitu panggilanya ternyata dengan sukses mampu mendirikan sebuah telur kurang dari 30 detik menyisihkan tiga lawanya.

" Saya senang sekali jadi juara pertama membuat telur bisa berdiri dengan waktu di bawah 30 detik dan saya juga sangat senang dapat hadiah," ucapnya dengan logat bahasa indonesia dengan terpatah-patah.

Sementara itu Ketua Panitia Festival Pek Cun, David Santosa menyampaikan, festival Pek Cun yang di laksanakan di lokasi wisata Pasir Kencana tersebut adalah puncak acara dari rangkaian festival yang di mulai tanggal 18 juni.

" Selama dua hari kita adakan pasar kuliner dari tanggal 18 di Jalan Blim bing, kemudian malam harinya jam 8 setelah sholat tarawih kita juga adakan Wayang Potehi dengan dalang khusus yang dihadirkan dari Surabaya," terangnya.

David menambahkan, seni tradisioanal wayang potehi telah puluhan tahun hilang dari Kota Pekalongan, sehingga pihaknya berinisiatif menampilkan kesenian yang sempat populer di Kota Pekalongan pada masa lampau.

" Wayang Potehi merupakan seni tradisional yang telah hilang di Kota Pekalongan dan merupakan salah satu kekayaan budaya bagi bangsa ini maka kita hadirkan untuk mengenang kembali," tambahnya.

Di tempat yang sama, Wakil Walikota Pekalongan H Alf Arslan Djuneid mengatakan, Pek Cun selain sebagai sebuah festival seni dan budaya juga mampu sebagai sarana masyarakat Kota Pekalongan untuk menjalin tali silaturahmi antar etnis yang berbeda.

" Masyarakat Muslim kota Pekalongan yang sedang menjalankan ibadah puasa masih menyempatkan diri menyaksikan festival Pek Cun sebagai hiburan sembari menanti datangnya waktu berbuka puasa," katanya.

Wawalkot juga menuturkan, bersama Dinas Pariwisata, Pemkot sangat mendu kung kegiatan kesenian kebudayaan sebagai agenda pariwisata yang akan dilestarikan.

Bahkan, menurut pria yang akrab disapa Alex tersebut, Pemerintah Kota Pekalongan bersama Dinas Pariwisata  berencana akan memusatkan festival Pek Cun di kota Pekalongan secara akbar.

" Kita akan tindak lanjuti nanti tahun 2016, Pemkot akan menyiapkan kepanitiaan untuk mensukseskan festival Pek Cun yang dipusatkan di Kota Pekalongan dengan harapan menjadi daya tarik wisata karena nanti ada pasar malam, wisata kuliner dan lainnya, dan tentunya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Pekalongan dari tiga etnis, jawa, Cina dan arab," tuntasnya.

Perayaan Cap Go Meh, Berkat Presiden Gus Dur

March 05, 2015 Add Comment
Perayaan Cap Go Meh, Berkat Presiden Gus dur
Perayaan Cap Go Meh Pekalongan

PEKALONGAN 
Ribuan warga Kota Pekalongan, Rabu (4/3) siang memadati jalur protokol pantura yang dilewati pawai Perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Perayaan Imlek dan Cap Go Meh, yang diselenggarakan oleh warga keturunan Tionghoa di Kota Pekalongan dipusatkan di Klenteng Po An Thian. Acara diawali dengan pembacaan doa dan mantra pada arca 9 dewa. Kemudian para Dewa diarak keliling beberapa jalan di Pekalongan dengan ditandu. Mulai dari Klenteng Po An Thian, di Jalan Blimbing, hingga Jalan Salak dan Sultan Agung.

Dari pengakuan beberapa warga yang bersuka cita dengan pawai tersebut, Sindarta, 50, pemilik toko Lisa Collection di jalan Salak. Kembali diadakannya acara tersebut karena berkat Presiden Gusdur.
”Dulu peringatan Cap Go Meh sering kami rayakan, sejak leluhur kami, sehingga sejak saya kecil sudah terbiasa. Namun sempat dilarang bertahun-tahun saat era Soeharto. Kini berkat Presiden Gus Dur kami bisa merayakannya kembali,” tuturnya ceria.
Sama halnya para pemilik pertokoan di sepanjang jalan yang akan dilewati pawai Cap Go Meh, Sindarta juga sudah menyiapkan sejumlah angpau yang ditempatkan diatas pintu masuk pertokoan untuk diambil oleh barongsai. Mereka berharap tahun kambing kayu ini bisa membawa berkah.
Laura, 26, warga Jalan Sultan Agung Kota Pekalongan mengungkapkan hal yang sama dengan menyiapkan sejumlah angpau di depan pintu masuk toko miliknya, maka diyakini akan membuka rejeki di tahun yang akan datang.
 “Intinya kami ingin berbagi dan beramal, karena semakin banyak kita beramal, banyak juga rejeki yang kita dapatkan,” ungkap Laura.
Sementara itu Wakil Wali Kota Pekalongan, Alf Arslan Junaid, yang membuka acara tersebut, menuturkan, perayaan karnaval kirab Cap Gomeh, sudah dimasukan sebagai agenda tahunan di Kota Pekalongan, sehingga bisa dijadikan salah satu atraksi wisata, yang harus dipromosikan.
“Acar seperti ini cukup bagus, karena juga berpotensi wisata bagi Pekalongan,” ujar calon Walikota tersebut.
Dalam pembukaan acara kemarin juga dihadiri beberapa tokoh masyarakat,s eperti Habib Luthfy bin Yahya, Kasdim, pengusaha Soleh Dahlan, Ketua KONI Ricsa Mangkula, beberapa anggota dewa dan SKPD terkait.(han)